Sunday, September 11, 2016

Beasiswa Pemerintah Buat si Cina: Patahkan Stigma Buruk Pemerintah Indonesia


Prolog

Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, saya mendapatkan keputusan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan bahwa saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia. Apakah saya merasa senang mendengar berita tersebut? Pasti. Akan tetapi, terdapat pelajaran yang lebih berharga di balik nilai sebuah beasiswa yang berarti layaknya hasil sebuah kerja keras. Pelajaran tersebut ingin saya bagikan melalui tulisan ini.
---

Pilihan, Usaha, dan Hasil

Semua dimulai ketika saya telah bekerja hampir dua tahun semenjak lulus kuliah. Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan perenungan, saya memutuskan untuk mengejar keinginan saya untuk kuliah S2 dan berburu beasiswa untuk dapat membiayainya. Oleh karena itu, saya lalu melakukan berbagai riset (mencari informasi secara online dan dengan bertanya kepada teman-teman), mempersiapkan diri, dan akhirnya memilih untuk mendaftar ke program Beasiswa Pendidikan Indonesia, salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI.
Begitu besar harapan saya agar mendapatkan beasiswa ini, apalagi sebelumnya saya telah menghabiskan waktu satu tahun untuk berdebat dengan diri sendiri, berusaha mengalahkan ego dan rasa takut akan kegagalan – bahkan sebelum saya mencoba. Maka, saya begitu mantap mendaftarkan diri saya ke batch pertama seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016.

Ternyata hasil seleksi tersebut jauh dari apa yang saya harapkan. Ya, saya tidak lolos seleksi. Saya masih ingat dengan begitu jelas bagaimana saya mempersiapkan diri untuk seleksi substantif yang merupakan seleksi akhir di batch pertama tersebut. Seleksi substantif LPDP terdiri dari tiga jenis seleksi: seleksi penulisan esai di tempat (on the spot essay), Leaderless Group Discussion, dan wawancara. Pengalaman tersebut merupakan yang pertama bagi saya; saya belum pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa apapun sebelumnya. Jadi, proses tersebut begitu menegangkan dan membuat saya gugup.

Sayangnya, kegugupan tersebut lah yang membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri saat menghadapi seleksi. Saat mengerjakan esai dan mengikuti Leaderless Group Discussion performa saya jauh dari maksimal. Ditambah lagi, pada saat wawancara, kegugupan saya membuat saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tim seleksi dengan tenang. Alhasil, saya tidak dapat menyampaikan latar belakang, tujuan, dan rencana studi saya dengan baik. Firasat saya yang kurang baik terhadap seleksi itu pun terbukti benar saat hasil seleksi diumumkan melalui surat elektronik. Tulisan TIDAK LULUS berwarna merah terang dan ukuran yang begitu besar memberikan perasaan yang terlampau mirip dengan mendapatkan nilai jeblok saat ujian sekolah, tetapi sebenarnya lebih serupa lagi dengan perasaan saat mengalami patah hati.

Ditambah lagi, perasaan sedih karena ketidaklolosan saya tidak hanya disebabkan oleh perasaan gagal, tetapi juga karena saya merasa mengecewakan orang-orang yang telah percaya dan mendukung saya. Ketika orang tua saya bertanya mengenai hasil seleksi tersebut dengan penuh harapan, dengan berat hati saya menjawab bahwa saya belum lolos seleksi di tahap ini.

Tidak Familiar dengan Beasiswa Pemerintah

Sebagai informasi, keluarga saya adalah keluarga etnis Tionghoa yang tidak begitu akrab dengan beasiswa pemerintah, begitu pula dengan kerabat-kerabat saya. Keinginan saya untuk bersekolah S2 dengan beasiswa pemerintah sempat memunculkan berbagai keresahan. Sempat pula orang tua saya, yang adalah pegawai swasta dengan latar belakang pendidikan sarjana S1, beranggapan bahwa lebih baik saya mengejar tangga karir dengan bekerja di perusahaan yang besar dan stabil daripada kembali bersekolah. Namun, setelah diskusi dan penjelasan yang panjang, pada akhirnya kedua orang tua saya begitu mendukung keinginan saya ini. Kemudian, beritanya pun tersebar kepada para kerabat saya di keluarga besar. Saya berusaha memaklumi, karena keluarga besar saya memiliki kultur keluarga yang senang berbagi informasi ‘update’ mengenai keluarga masing-masing, apalagi yang terkait dengan perkembangan anak-anak. Walaupun bukan harapan saya agar informasi ini menyebar viral, tentunya dukungan-dukungan yang ada tetap saya jadikan dorongan dan sumber motivasi.
"Kalau kamu dapat beasiswanya, kamu nggak dikontrak untuk bekerja di instansi pemerintah kan?" dengan tatapan bergidik ngeri. Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang lain saat tahu bahwa saya mendaftar ke program beasiswa yang dikelola pemerintah.

Sayangnya, karena begitu banyak kerabat yang mengetahui mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti ini, tentu mereka juga akan menanyakan hasilnya. Saya langsung memprediksi bahwa mama saya akan dihujani pertanyaan mengenai hasil seleksi yang telah saya lewati. “Gimana, si Janet dapat nggak beasiswanya?”


Gagal: Di antara Meritokrasi dan Diskriminasi

Banyak yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tetapi saya tidak dapat memungkiri betapa harapan saya hancur mengetahui saya tidak lolos seleksi. Perasaan ditolak tidak akan pernah menjadi perasaan yang menyenangkan, dan kadang seolah-olah hidup enggan untuk memberikan hasil yang setimpal dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan. Maka, menghadapi kegagalan tersebut, saya hanya berharap orang-orang yang mengetahuinya hanya akan memberikan saya dukungan yang lebih besar dan teriakan semangat yang lebih keras.

Mama saya yang mengerti hal tersebut, tidak pernah lupa memberitahu saya reaksi kerabat-kerabat saya yang satu persatu mengetahui hasil seleksi tersebut dari sang mama. Ada yang kasihan, ada yang terus menyemangati. Saya merekam satu persatu pesan-pesannya, merasa berterima kasih. Sampai suatu hari, di antara sejumlah reaksi yang saya terima, datang sebuah reaksi yang begitu menampar saya.
"Diskriminasi banget sih!" ujar salah satu kerabat saya begitu mengetahui saya tidak lolos.

"Diskriminasi? Diskriminasi apa?" pikir saya, mengernyitkan dahi dengan intensnya. 
Duka akan kegagalan saya seketika memudar. Saat itu, yang kemudian justru membuat saya terganggu bukan lagi rasa bersalah saya karena telah memupuskan harapan orang lain, melainkan reaksi berupa prasangka buruk yang berusaha memberikan justifikasi bahwa ketidaklolosan ini adalah hasil tindakan diskriminatif. Ya, saya dianggap tidak lolos karena saya berasal dari etnis Tionghoa yang merupakan kaum minoritas di Indonesia.

Saya yang awalnya merasa begitu kecewa karena tidak lolos seleksi, menjadi jauh lebih kecewa karena kegagalan saya dianggap lumrah. Ketika reaksi yang saya ekspektasikan adalah "Wah, nggak apa-apa. Coba lagi ya! Lebih semangat mempersiapkan seleksi selanjutnya ya. Kamu pasti bisa!" yang saya dapatkan adalah "Wah, wajar itu. Pantas saja kamu nggak mendapatkan beasiswa, namanya juga beasiswa pemerintah, ya pasti yang diberikan kebanyakan anak-anak pribumi saja."
Rasa geram dan sedih pun bercampur menjadi satu. Pandangan dan prasangka mereka terhadap negeri ini begitu buruknya, sampai-sampai sebuah lembaga negara yang profesional pun diragukan profesionalitasnya.

Menurut saya, pemikiran seperti ini keliru.

Subjektifitas pasti ada dalam seleksi manapun, tidak hanya satu beasiswa saja, tetapi beasiswa manapun. Ini juga berlaku di dalam seleksi masuk kerja. Mengapa? Karena proses seleksi tidak cukup hanya melihat prestasi akademis maupun kemampuan yang dapat diukur secara kuantitatif. Seleksi wawancara yang memiliki bobot terbesar pun menjadi sesuatu yang lumrah, karena hanya lewat seleksi wawancara lah tim seleksi dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui nilai-nilai  maupun tujuan yang dipegang oleh peserta seleksi. 

Hal-hal tersebut menjadi tolak ukur terbesar keberhasilan dalam suatu seleksi karena seleksi adalah sebuah proses perekrutan calon anggota ke dalam suatu kelompok, badan, atau organisasi yang membutuhkan keseragaman visi dan misi pesertanya.
“Saya berpikir bahwa saya tidak lolos karena belum dapat memenuhi kriteria, tapi tidak pernah sedikitpun saya menarik kesimpulan bahwa kriteria tersebut adalah menjadi seorang pribumi.”

Saat itu, ingin rasanya saya membantah dengan berkata: "Bukan. Salah. Saya tidak lolos seleksi bukan karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa seperti yang kalian pikirkan, melainkan karena saya tidak mempersiapkan diri dengan baik.", tapi tentu akan sia-sia kalau tidak dibuktikan melalui tindakan. Maka, saat pendaftaran tahap kedua seleksi LPDP di tahun 2016 dibuka, saya berusaha mempersiapkan diri lebih baik dan kembali mendaftar. Saya tidak lagi hanya bersemangat lebih besar untuk meraih kesempatan belajar dan membangun kualitas diri yang kelak dapat menyumbangkan kontribusi bagi Indonesia, tetapi juga untuk membuktikan bahwa prasangka tersebut salah besar.

Tepat pada tanggal 10 Juni 2016, saya berhasil membuktikannya. Saya lolos seleksi substantif yang merupakan seleksi terakhir program Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI. Saya lolos.
Dan terakhir kali saya cek, saya masih keturunan Tionghoa tuh. *badumtsss*
Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah air ini. Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas. Harapan saya, stigma negatif pemerintah Indonesia akan semakin memudar, seiring dengan bertambahnya instansi pemerintahan yang menjunjung tinggi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.
Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas.
 ---

Epilog

"Ci! Ci! Cina! Cina!" sekelompok remaja laki-laki dari seberang jalan berteriak-teriak sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk saya dan dua orang teman saya yang kebetulan juga keturunan Tionghoa, di perjalanan menuju sekolah. Bagi mereka hal itu lucu -- bagi saya, itu sangat menakutkan. 

Sebenarnya saya memahami bahwa mungkin setiap keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki setidaknya satu pengalaman yang buruk dengan adanya diskriminasi terhadap etnis, budaya, maupun agama. Saya pun tidak mudah mengabaikan panggilan-panggilan iseng yang dianggap harmless tapi menurut saya mengintimidasi. Maksud saya, tidak mungkin mereka paham bahwa hal kecil seperti itu membuat saya ngilu mengingat cerita kerusuhan di tahun 1998, dimana banyak wanita keturunan Tionghoa menjadi menjadi korban pemerkosaan.

Jadi, saya tidak akan memaksa para pembaca, khususnya yang pernah mengalami diskriminasi ataupun bullying dalam bentuk apapun di masa lampau, untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Yang terjadi memang sudah terjadi. Tetapi negeri ini hanya akan semakin maju apabila kita berpikiran terbuka dan pelan-pelan meninggalkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Jika seseorang melakukan hal yang tidak adil kepada orang lain, itu kesalahannya, bukan kesalahan sukunya, etnisnya, agamanya, atau apapun golongan lainnya yang cenderung digeneralisasikan.

Bayangkan, tanpa ribuan penilaian keliru yang kita buat, berapa juta musuh yang dapat seketika berubah menjadi sahabat?

"Our privilege to make personal judgment based on our experiences should never stop us from being open-minded and kind to everyone.” – Janet Valentina

Until next post,

Janet.

Tuesday, May 10, 2016

30 Hari Tanpa Social Media: Waras atau Gila?

Media Sosial: Lingkaran tiada akhir


Buka Facebook, scrolling di News Feed untuk mengecek sudah ada berita terbaru atau artikel terbaru apa lagi yang sedang viral, lucu, atau seru untuk di-share. Bosan, pindah ke aplikasi Path, biasanya ada meme terbaru yang menggoda hati untuk di repath, mulai dari yang berbau politik sampai yang berbau praktik bullying terhadap orang-orang jomblo dan orang-orang yang tinggal di dekat matahari (kalau anda punya Path pasti ngerti maksud saya). Setelah Path sudah habis dibaca-baca, pindah ke Twitter untuk melihat ada quote-quote apa yang bisa diretweet. Masih bosan? Pindah lagi ke Instagram untuk sekedar nge-like foto-foto makanan yang cantik dan rata-rata harganya setara uang kos sebulan, sambil nge-post foto-foto yang bisa kita kasih hashtag #latepost atau #throwback atau #foodporn.

Hidup yang bergantung pada Timeline

Sepertinya hidup orang-orang di zaman sekarang ini tidak pernah lepas dari social media. Sudah kronis ketergantungannya. Hal ini membawa saya kembali pada sebuah fenomena mengejutkan yang saya temukan di tahun 2014 silam. Saat itu, saya pergi bersama beberapa rekan kerja untuk melakukan consumer visit di pinggiran kota yang bertujuan mengetahui kebiasaan ibu rumah tangga dalam menggunakan teknologi digital dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sana, saya berkesempatan mewawancarai seorang ibu rumah tangga, sebut saja Ibu Ani. Ibu Ani mengurus rumah tangga dan dua orang anak, sedangkan suaminya mencari nafkah sebagai satpam gedung dan kuli bangunan di sela-sela waktunya. Rumah yang mereka tinggali bisa dibilang sangat kecil, cenderung kotor dan kurang terawat. Alat-alat elektronik penting yang dapat membantu kegiatan rumah tangga Ibu Ani sehari-hari, seperti televisi dan mesin cuci, sudah rusak dan belum juga direparasi. Alat transportasi yang digunakan keluarga mereka sehari-hari, yaitu sebuah sepeda motor, masih belum lunas cicilan.
Lalu, tiba-tiba ibu Ani membuat saya merasa seakan tersambar petir saat dia mengutarakan ke saya bahwa dia paling tidak bisa hidup tanpa telepon genggamnya, sebuah Blackberry Gemini. Saya tanya, mengapa? Karena melalui BB Gemini ini, ia dapat mengakses Facebook untuk berkomunikasi dengan teman-teman arisan atau pengajian sekampung. Saat butuh hiburan, ibu ini membaca guyonan-guyonan ala Betawi yang ada di halaman Facebook yang ia sukai. Tidak heran saat rekan saya memberikan pertanyaan follow-up, "Hadiah apa yang ibu harapkan dari kemasan cairan pencuci piring?" Ibu Ani tidak menjawab mobil, perhiasan, atau rumah. Terpatri di ingatan, ekspresi wajah Ibu Ani saat menjawab dengan malu-malu "Pulsa, mbak. Supaya saya bisa beli paket data."

Melangkah keluar dari zona nyaman

Fenomena seperti ini yang lalu membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri, kemudian merasa tertantang untuk untuk menguji diri saya sendiri.

Makanya, saat sahabat saya tiba-tiba bilang "Bisa nggak, cuma menggunakan 2 jenis social media dalam waktu sebulan?" , dalam hati saya menjawab, "Kenapa tidak sekalian saja hidup tanpa social media  dalam waktu sebulan?" I  mean, why not? sepertinya akan jadi pengalaman yang seru. Serta merta saya menjawab, "Ok, I'm in!" dan petualangan baru pun dimulai.

Prosesnya..

Memulai komitmen iseng tapi menantang yang saya sudah tentukan ini, akhirnya saya menghapus/uninstall seluruh aplikasi social media yang saya miliki. Iya, semuanya. Facebook, Path, Twitter, dan Instagram, Tapi ini bukan berarti saya boleh mengakses social media tersebut menggunakan komputer/desktop.

Let me tell you, seminggu pertama hidup saya tanpa social media bisa dikatakan cukup menarik. Kedua jempol yang punya muscle memory sangat hebat ini biasanya akan secara otomatis meng-unlock smartphone saya dan membuka folder "Social Media" dan menemukan bahwa... tidak ada aplikasi social media. Kemudian suatu pagi yang cerah teman kantor tiba-tiba berkata "Eh net.. Tau nggak video soal bla bla yang lagi heboh banget itu di Facebook?" dan saya cuma bisa bengong karena tidak tahu menahu soal itu. Tidak jarang saya suka merasa gelisah tidak jelas, pori-pori kulit mengeluarkan butir-butir keringat sebesar biji jagung. Belum lagi, tiba-tiba saya terserang bakteri Typhus dan harus menghabiskan waktu sekitar 10 hari di rumah untuk melakukan istirahat penuh. Sempurna sudah penderitaanku, pikir saya.

Namun dengan semangat yang membara dan motivasi yang ditinggi-tinggikan, saya mencari cara untuk menggantikan "hiburan-hiburan" sehari-hari yang sekarang statusnya di-banned ini. Masa sih, hidup kebahagiaan saya hanya bergantung pada social media? 

Jadi, setelah riset mendalam perenungan sejenak, saya menemukan hal-hal yang dapat saya lakukan:

1. Memperkaya ilmu melalui video di YouTube


No, I was not cheating. YouTube bukan social media (untungnya bukan) jadi saya masih bisa menikmati nonton video-video musik, talkshow, movie trailers, dan sebagainya. Sebagian waktu yang saya habiskan saat menonton Youtube juga memberikan saya banyak pengetahuan, seperti tutorial memasak, Do It Yourself, dan masih banyak lagi. Tidak lagi mengherankan kalau saya bisa menemukan berbagai macam konten video yang berguna di sini, karena mesin pencarian milik Youtube adalah yang terbesar kedua setelah mesin pencarian Google.


2. Download apps portal berita (Kompas, DetikCom, Flipboard) dan mulai membaca


Teman-teman saya mengira saya kesambet saat memergoki saya membaca sebuah artikel berita melalui salah satu aplikasi pembaca berita yang saya install sebagai pengganti aplikasi social media, Flipboard. Wajar saja mereka hampir kejang-kejang dengan mulut berbusa, wong biasanya mata saya terpaku berjam-jam pada layar hp untuk melihat dan mengomentari kegiatan orang lain di lini masa. Tapi kebiasaan baru ini lebih-lebih merupakan eye opener bagi saya. Saya menyadari, topik-topik tertentu yang sedang hot di social media agak, atau bahkan sangat patut dipertanyakan kebenarannya. Artikel dengan sumbernya yang seringkali tidak terpercaya terkadang justru lebih mudah tersebar secara viral karena mengandung unsur-unsur yang fantastis, mengejutkan, sulit dipercaya, dan sangat menarik untuk dibagikan untuk menjadi bahan obrolan bersama teman-teman. Mulut pun rasanya gatal ingin berkata, "Eh lo tau nggak siiih...?". And, you have that share button on your fingertips.
Social media meningkatkan keingintahuan besar akan hal-hal baru dan terkini, namun sayangnya juga membudayakan kebiasaan membaca tidak baik yang diadaptasi sebagian besar anak muda saat ini : TL;DR, alias Too long, did not read. 
Menurut saya sih, budaya TL;DR ini sudah bertransformasi artinya menjadi Too Lazy, Did not read, karena ketidakakuratan informasi yang diserap bukan hanya disebabkan malas membaca artikel terlalu panjang, tapi juga malas melakukan verifikasi kebenaran sumber berita atau konten artikel yang dibaca.

Berkat membaca artikel-artikel berita alih-alih menyimak timeline di social media, ternyata literasi media saya jadi sedikit banyak lebih terasah. Amin.


3. Fokus pada diri sendiri


Jangan salah, terlepas dari dunia social media awalnya memang menyiksa jiwa dan raga, mungkin ibarat berusaha lepas dari kecanduan obat-obatan terlarang. Lho, saya nggak bercanda, belakangan ini ketakutan yang disebut Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal, baik itu ketinggalan berita terbaru sampai takut kehilangan kesempatan mengaktualisasikan diri, melanda sebagian besar generasi muda di Indonesia dan dunia internasional. Saya yakin sebagian besar pembaca pernah terpengaruh publikasi teman di sosial media, misalnya membandingkan keadaan diri, pencapaian pribadi, atau jadi terlalu lama merenung (kadang cenderung meratapi) dan bertanya "Apakah saya cukup baik? Sepertinya teman-teman saya lebih baik, lebih bahagia.." dan lebih sebagainya.
Mengambil istirahat dari pemakaian social media menjadi langkah baru yang saya ambil untuk melakukan apa yang penting namun saya sering lupakan, yaitu menjadi diri saya sendiri dan mensyukuri (mensyukuri ya, bukan nyukurin) apa yang saya miliki. 
Teman punya mobil baru? Liburan ke luar negeri setiap minggu? Terus kenapa? Saya nggak perlu secara konstan berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa saya bahagia. Feeling content with myself is enough.

4. Spending time with those who matter


Berikut ini pertanyaan refleksi, yang bisa anda jawab dalam hati: seberapa sering anda merespon percakapan dengan teman, keluarga, dan orang-orang tersayang anda tanpa melepaskan pandangan dari layar smartphone? Andai hal ini adalah sebuah perbuatan kriminal yang melanggar hukum, mungkin sebenarnya saya sendiri sudah keluar masuk penjara, bahkan dihukum seumur hidup. Mungkin benar kata orang bahwa social media itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ironisnya, hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari.


Selama saya 'puasa' social media (dan waktu itu sakit typhus), saya menjadi lebih observant terhadap hal-hal sekitar dan lebih berusaha menjadi pendengar yang lebih baik terhadap orang-orang terdekat saya, karena saya nggak sibuk sendiri mengurusi 'kepoan' di social media. Singkat cerita, tali silaturahmi jadi semakin terjaga karena waktu yang kita habiskan dengan orang-orang yang kita sayangi menjadi lebih berkualitas. See how changing one small thing could create a big impact. Even better, a positive one.

Setelah hari ke 30..

Saya merasa terlahir kembali. Nggak, deng. 

Setelah melewati hari demi hari tanpa social media, saya mencapai suatu konklusi. Social media is social media, therefore it should not be less or more than that. 
Menggunakan media sosial memang asyik dan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal (selayaknya fungsi sebuah bentuk teknologi) mulai dari komunikasi, mengabadikan momen-momen berharga dalam hidup, sampai mengakses informasi. Namun, social media tidak seharusnya mendikte bagaimana kita menjalani hidup, apalagi kalau sampai membuat kita merasa kurang berharga akibat perbandingan-perbandingan tidak berdasar. Sesuai dengan namanya, Social media adalah sebuah media. Jika social media adalah ribuan halaman kosong di mana semua orang dapat menuliskan ceritanya masing-masing, anda salah satu penulisnya. Have fun writing your own life.

Friday, September 26, 2014

Bed Rest.


The title says it all. 

"Hah?Bed rest?" 

Iya masbro, mbaksis. Bed rest. Ceritanya saya sedang menjalani hukuman (yang sebenarnya lebih terasa seperti liburan --psst.. jangan bilang-bilang bos saya ya) yang bernama bed rest ini.

Be careful what you wish for. Kenapa? Karena wish yang kita punya bisa saja dikabulkan, tapi dengan bentuk yang 'sedikit' berbeda dengan  apa yang kita bayangkan. Contohnya apa yang baru saja saya katakan di awal minggu ini. 

"Ah, udah lama ya nggak tidur siang, goler-goler di kasur kayak waktu jaman kuliah dan SMA." 
"Kalau bisa liburan seminggu enak kali ya.."
Kalimat-kalimat yang keluar begitu saja dari mulut saya saat ngantuk sehabis makan siang di kantor, di hari Selasa.

Mulutmu, harimaumu, dek Janet. Ketika Tuhan berkata (dengan nada sedikit nge-rap..) "Kamu akan gabut di kantor lalu sepulang kantor kamu akan mendapatkan wahyu berupa sifat rajin yang sudah lama tidak kamu miliki lalu kamu akan bersih-bersih dan nyapu ngepel seluruh kamar kos yang bentuknya sudah hina dan tidak terurus itu kemudian kamu akan bersin-bersin yang akan berubah menjadi flu yang kemudian berubah menjadi demam dan sakit tenggorokan yang akan kamu derita semalaman!", WALLA! (Maksudnya voila) terjadilah yang Ia kehendaki padaku.

Selasa malam, saya pun demam dan tenggorokan saya atit ali. Sakit sekali.
Rabu pagi, dengan kepala yang masih berat dan tubuh yang terasa melayang-layang, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah sakit di Jakarta, minta izin nggak masuk kantor. Nggak tanggung-tanggung, saya datang ke dokter Internis (Spesialis Penyakit Dalam). Kenapa? Karena itu dokter langganan om dan tante saya yang katanya bagus. Percayalah saya tadinya mau ke dokter umum saja karena merasa agak terlalu lebay kalau baru demam sehari langsung datang ke internis. Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya, saya pikir.

Mengambil nomor antrian yang ternyata nomor satu (Hore!) karena datang kepagian, ternyata merupakan hak prerogatif dokter untuk datang kapan saja. Saya datang jam 9 pagi, dokternya datang hampir jam 11. Mati gaya, tapi untung nggak mati beneran.
Melihat sekeliling saya yang mulai ramai (bapak-bapak paruh baya, ibu-ibu menggunakan kursi roda, dan sebagainya) entah kenapa saya merasakan tatapan yang agak sinis dari sekeliling saya. Mungkin nurani mereka berkata "Ini anak bau kencur, kayanya sehat-sehat aja ngapain ngantri spesialis penyakit dalam segala?" dalam hati saya malah sedikit berdoa "semoga nggak sia-sia saya datang ke internis, kalau nggak saya cuma ngelama-lamain antrian aja sama bakar duit sendiri"

Tidak lama kemudian. akhirnya dokternya datang juga. Setelah lama-lama mendapat tatapan sinis dari sesama pasien yang antri (nggak deng) saya masuk, diperiksa dan diwawancara sebentar oleh dokter yang semoga saja mahatahu akan penyakit apa yang saya derita, dan coba tebak dokternya bilang apa? 

"Kalau baru demam sehari sih belum berarti ya. Coba dicek darahnya terlebih dahulu di lab, nanti setelah hasilnya keluar kembali lagi ke sini." 

Lalu dengan rasa bersalah dan muka memelas, saya berkata "Maaf ya udah buang-buang waktu dokter.."
Nggak lah. Saya mengucapkan terima kasih, melangkah keluar dan melakukan cek darah di lab seperti yang dianjurkan. Apa rasanya diambil darahnya menggunakan jarum suntik? Unpleasant. Tapi ya apa boleh buat, saya harus membuktikan bahwa ada sesuatu yang salah di dalam tubuh saya ini, mempertanggungjawabkan 2 hal yang pertama kali muncul di pikiran saya: Yang pertama, izin nggak masuk kantor. Rasanya agak sia-sia kan kalau nggak masuk kantor untuk pergi ke dokter tapi ternyata nggak sakit apa-apa? Berhubung saya masih anak baru dan belum punya jatah cuti (nah jadi curhat) it's a big no untuk terlalu banyak izin nggak masuk kantor. 
Jadi, kalau sudah izin nggak masuk kantor tapi ternyata nggak sakit apa-apa, bagaimana? Coba dipikirkan sendiri.
Yang kedua adalah tatapan-tatapan judging dari sesama pasien yang mengantri tadi. Nggak mau kan, dianggap cuma 'menuh-menuhin antrian aja'. Memang sih, saya nggak teriak "Hey, saya antrian nomor satu loh! Lalala yeyeye~" sambil joget ngeledek. Basically itu beban moral yang terjadi di pikiran saya saja waktu itu.

Satu bakwan jagung dan satu tahu isi habis dilahap, serta satu jam pun berlalu. Saya kembali ke laboratorium rumah sakit untuk mengambil hasil cek darah yang dinanti-nanti. Saya buka amplopnya, mencoba membaca arti angka-angka yang ada di kertas tersebut. Nggak ngerti.
Menyerah, saya kembali ke dokter penyakit dalam yang mahatahu (disingkat menjadi DPDYM).

Percakapan di jumpa kedua saya dengan DPDYM:
DPDYM: "Ya, ini hasil cek darahnya semua normal ya. Trombositnya agak rendah, tapi leukosit dan hemoglobinnya semua masih normal"
Saya: *angguk-angguk lega sambil mikir 'oh jadi gue ga sakit apa-apa dong ya'*
DPDYM: "Tapi...." *dengan jeda dramatis*
Saya: *tahan napas*
DPDYM: *membuka lembaran kedua hasil cek darah (saya nggak sadar hasilnya terdiri dari dua lembar)* "Tapi dilihat di sini kamu sudah kena Typhus ya.. " *kemudian memberi sedikit penjelasan mengenai Typhus, memberi titah untuk saya agar bed rest selama 3 hari, dan menulis resep obat*

Terdiagnosis lah saya memiliki penyakit Typhus. Dengan rasa bersyukur karena saya tidak perlu diopname (apalagi diinfus), saya melangkah keluar ruang dokter tersebut dengan hati gembira. 

Hari Sabtu ini saya masih harus cek darah yang kedua kalinya, semoga keadaan saya sudah membaik.


Konklusi?

Jadi sekali lagi, be careful what you wish for, dan kalau wish yang anda miliki terkabul namun tidak benar-benar sesuai dengan apa yang anda inginkan, hey, mungkin itu sesuatu yang sebenarnya anda butuhkan.

Seperti saya. Sakit sih, bed rest sih, tapi ya disyukuri saja. Kadang memang harus ada sesuatu yang kita korbankan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. 

Para pembaca, jaga kesehatan ya. Jangan gara-gara tulisan saya ini terbentuk gerakan 'Saya ingin sakit supaya bisa libur'.
Liburan yang menyenangkan ya saat benar-benar waktunya liburan dong.
Semoga next time benar-benar punya kesempatan untuk berlibur ya~ #tetep


Janet

Thursday, September 4, 2014

Moments (Part 2)

Source: http://imbriumbeach.com/wp-content/uploads/2012/12/a-moment-in-time.jpg

Just wondering.

People meet people, and when there's a meeting there's a farewell. There are times when we once become the closest individuals with certain people. But when it's time, you would suddenly see yourself becoming the most distant stranger to them and it all happens just too fast. 

Moments become memories and time just keeps racing as fast as it could just for the sake of it. We continue with life.

But neither you nor i know how many moments we have with whoever people we meet in life, so there's this slightest chance you would come across each other again with the people you once had so many good memories with. Good and bad.

Regardless of how much time has flown, or how bad the situation was which has made both of you drift away from each other, you would first remember at least the tiniest bit of your good memories with these people.
You would secretly play the scenes in your head, wondering if the other person thinks about it too, or at least remembers it when they finally meet you again.

Would they do the exact same thing?
Why?

Just wondering.



Monday, June 9, 2014

Malu bertanya, sesat di jalan. Bertanya online, sesat di mana?

Reading time: 5-10 minutes


"Malu bertanya, sesat di jalan."


Apa kabar para pembaca? 

Sebaiknya saya memulai posting ini dengan pertanyaan, supaya saya tidak tersesat di jalan #apasih. Awalnya, saat nongkrong gaul beberapa saat lalu di sebuah tempat eksklusif yang sering kita sebut toilet, saya sedang berpikir kira-kira apa topik yang menarik untuk dibahas di blog yang isinya semacam gado-gado ini. Bak blogger profesional, saya mulai deh berpikir topik-topik yang kira-kira memiliki pengaruh positif terhadap peradaban manusia. Nggak ketemu. 

Sebelum pikiran saya ke-distract (fyi, saya tipe orang yang memiliki state of mind yang selalu berloncatan ke sana kemari. Idenya banyak, terus hilang fokus, lupa deh.) tiba-tiba saya teringat dengan salah satu situs yang sepertinya akhir-akhir ini sering saya lihat di news feed Facebook dan Twitter. Apakah itu? Situs tersebut adalah Ask.fm.

1. Ask.fm (www.ask.fm)


Untuk yang belum tau, nih sedikit mengenai Ask.fm. Ask.fm adalah sebuah situs social media di mana aktivitas utama yang dapat dilakukan sangat simple, yaitu bertanya. Situs ini menyediakan fitur agar kita bisa bertanya secara publik pada orang-orang yang juga punya akun di Ask.fm, begitupun sebaliknya. Jadi kegiatan kita di situs tersebut ya saling bertanya dan menjawab aja. Kita juga bisa jadi anonim dalam melontarkan pertanyaan, mungkin tujuannya supaya kita tidak malu-malu bertanya lagi.

Dengan kesederhanaannya itu, saya jadi ikutan bertanya-tanya. Kenapa situs ini cukup populer ya di Indonesia? Well, memang nggak sepopuler Facebook dan Twitter yang penggunaannya sudah hampir mengalahkan kegiatan bernapas, tapi setelah saya search di Google, jumlah penggunanya, tebak berapa? 112 juta orang.

Sekilas info, sebenarnya sebelum ada Ask.fm ini, ada situs pendahulunya yang kurang lebih fungsinya sama, yaitu Formspring.me. Mengikuti naluri remaja saya (dulu saya mencoba menggunakannya saat berusia 15-16 tahun), saya mencoba menggunakan situs Formspring.me ini. Ternyata, bertanya dan menjawab itu cukup menyenangkan, dan membuat cukup ketagihan. Situs ask.fm dan Formspring.me ini juga punya fitur random question kalau kita sedang mood untuk menjawab segala macam pertanyaan, seperti "What is your biggest weakness?" atau "What three things do you think of most each day?". Pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, tapi membuat kita senang saat bisa menjawabnya dengan baik.

Sepertinya situs ini cukup populer karena manusia pada dasarnya punya keingintahuan yang besar terhadap orang lain. Karena itu salah satu cara menyalurkannya (menyalurkan kekepoan anda) adalah dengan bertanya. Sebetulnya positifnya situs ini bisa digunakan untuk saling bertukar saran dan pendapat, tapi sayangnya banyak sekali penyalahgunaan fitur Anonim (mentang-mentang nggak ketahuan siapa yang nanya), sehingga juga banyak pertanyaan yang... seenak jidat.

Overall, menurut saya terlepas dari keunikannya, situs ini cocok digunakan saat senggang atau bosan saja, sih. No offense untuk yang ngefans dan aktif di situs ini, ya.

2. Yahoo! Answers (www.answers.yahoo.com)


Nah... Gara-gara Ask.fm, saya jadi ingat masa-masa ketika saya masih alay (jangan ketawa, saya tahu anda juga pernah alay). Tapi jangan salah, di masa ke-alay-an saya itu saya belajar banyak mengenai internet. Salah satunya, Yahoo! Answers ini. Berbeda dengan Ask.fm dan sejenisnya, Yahoo! Answers adalah semacam forum tanya-jawab yang dibuat oleh Yahoo! (yaiyalah) supaya penggunanya bisa berbagi informasi berguna. Forum ini dibagi menjadi topik-topik tertentu, dari pendidikan, hiburan, teknologi, sampai curhat-curhat lucu. 

Niat dari pembuatan situs ini sangatlah mulia, dan sepertinya dulu Yahoo! Answers sempat berjaya. Saya dulu cukup sering bertanya di forum ini apabila ada pelajaran sekolah yang tidak saya mengerti #pencitraan. Sekarang layanan Yahoo! Answers ini sudah tidak kedengaran lagi. Bener nggak? Jangan-jangan cuma saya yang tahu soal situs ini.

pertanyaan nggak penting yang sering ditemui di Yahoo! Answers. sumpah, ini bukan saya.
contoh lainnya. cari di Google, ada banyak.

3. Quora


Pernah dengar mengenai Quora? Kalau belum, you really need to check it out.
Quora adalah situs forum tanya-jawab yang punya kredibilitas sangat baik. Dengan taglinenya, "Your best source of knowledge", situs ini menjadi wadah untuk saling berbagi pengetahuan dan pendapat pribadi mengenai suatu topik. Apa bedanya dengan Yahoo! Answers? Pertanyaan-pertanyaan di Quora adalah pertanyaan yang lebih berbobot dan kontennya dikelola dengan sangat baik oleh komunitas penggunanya. sehingga apabila kita hanya browsing-browsing iseng pun di Quora, kita bisa menemukan informasi atau pengetahuan yang berguna. Quora sudah pernah difiturkan di dalam artikel yang dipublikasikan pada The New York Times, USA Today, TIME, dan The Daily Telegraph UK.
Jujur saja saya belum terlalu banyak mengeksplor situs ini. Tapi, from what I've found so far, this website is one of cool websites you'd rather spend your time on.
Kalau penasaran, langsung aja cek di sini, Most Viewed Quora Questions.

Konklusinya?

Situs-situs di atas punya satu karakteristik yang sama, fungsi dasarnya adalah melestarikan budaya bertanya dan berbagi pengetahuan. Tentunya sama seperti situs-situs lainnya, ada pro dan kontra dalam penggunaannya. Banyak yang bilang sarana-sarana seperti ini membuat kita menjadi malas (karena sedikit-sedikit nanya), meningkatkan risiko kejahatan secara online, dan sebagainya.
Ingat, nggak semua hal yang ada di internet itu benar, jadi jangan mudah percaya dengan informasi yang dipublish di internet (tiba-tiba teringat hot-hotnya topik mengenai black campaign).
As cliche as it always sounds, yuk gunakan sarana-sarana yang super canggih ini dengan lebih bijak. Sebaiknya jangan menggunakan situs-situs ini sebagai sarana membully orang lain, spamming, flaming, melakukan penipuan, dan sebagainya. 
Demi keamanan kita sendiri, sebaiknya jangan sembarangan mempublikasikan informasi pribadi, karena juga dapat disalahgunakan orang lain.

Oke deh, sekian dulu posting saya kali ini. Ada pendapat mengenai situs-situs di atas atau mengenai tanya-jawab online? Ditunggu komentarnya :)

Sunday, May 18, 2014

The 4D Phases of Your Reaction Towards Unwanted Changes

Reading time: 3-5 minutes



How do you actually react to those unwanted changes you have in life?


Here's what I think would be the phases that you go through once the almighty unwanted changes are right at your doorstep.
Disclaimer: This post is purely based on my personal opinions.

1. Denial

"Oh, you gotta be kidding me. Denial? No it is not. Everything is fine, everything is gonna be fixed like how they've always been. Well you know thesedays this kind of problem isn't that simple anymore, right? There must be something missing here and I need to find it. Everything's actually fine."

No, it is not. You know something is bothering you, but you're either too afraid to deal with it, or you just haven't fully realized that something is changing, and that change is not something you favor.

2. Disorientation

"What am I doing? Did I do this wrong? Did I do anything wrong at all? What should I focus on? Why is this not working? Wait.. what?"
When a change happens, and it has started bothering you even more, everything is a distraction. You can't focus. You're somehow reacting to this change more spontaneously with all the defense you have at the moment. And when you have done all you can and it's not working well, you finally realize that this is really happening. Moving on to the next phase.

3. Depression

" I don't know what to do anymore. I have tried everything. I never expected this. I shouldn't have done that. I cannot deal with this anymore. What should I do to make this right? Why is everything different now?"
This is usually the phase where you're letting all of your feelings out towards the unwanted change. You know that this is really happening. It's absorbing all of your positive energy all at once. One or two things might happen, like self-blaming, or letting your angst out on others. You desperately want to stop that change but you're running out of time, energy, and ideas. What's the worst thing that can happen? If you cannot go through this phase easily (usually it's not because you can't, you just don't want to. It's so comfortable being all gloomy and diving into the depth of your agony. Right?) you will, yes you will, ruin yourself even more.

4. Dealing with it

"Okay, I got it. I did the right things, and I also did the wrong things. I have probably done my best, but change is inevitable. I have to embrace the NOW, and I know everything's always gonna change eventually. By that time, I should be ready for it. I should be ready to accept every single change that will happen in my life."
There you have it. Once you're ready to accept that change, and not to just accept it, but also to embrace it, you'll become more positive towards others and yourself. Everything really happens for a reason, or many reasons. One time it doesn't make you feel good, and another time it makes you feel damn good. Fair enough?

These phases of reaction are always there, and the length of each phase varies. You can choose to be in denial forever, or let yourself burn in anger, or try a more positive approach.

Here's the ugly truth.
You will go through these phases again, and again, and again. It never stops.
But the more you've gone through it, the stronger you have become, supposedly.

And it depends on how much you love your life. It is YOUR life after all, not anyone else's.

This is what I want to believe.
How about you?

Be kind to one another. See ya in my next post.



Friday, April 18, 2014

What are YOU gonna do after graduation?

Reading time: 5-7 minutes



"Are you planning to take master's degree afterwards?"
"How are you? Have you got a job yet?"
"Do you think I should go for the Master's degree scholarship or should I find a job instead?"


.. and so on, and so on.

Hi there, fellow fresh grads,

Those questions above, including the blog title, are definitely the "Questions of the year" kinda thing. I mean, I believe all of my friends who are graduating (or have just graduated), like me, have got these questions asked to them a zillion times. I know I'm not the only one (right?). They're coming from your friends, parents, relatives (you know, the countless aunts and uncles, the older cousins) or your mom's friends.. and even neighbors! Suddenly your graduation, your future, has become the 'Here and Now' and everyone's number one concern.

And how's your reaction?

Do you become more excited about the 'life-after-graduation' when they do so? Do you become more afraid of stepping into the real world instead? Or do you get so, so annoyed that every time someone asks you one of those questions you'll answer shortly with "We'll see."?

Honestly, I was very confused with what I'm gonna do with my life after graduation, or at least after I finished my thesis defense. I surely have learned a lot from the thesis writing process, but I didn't even try to focus on what's next while I was writing my thesis. But that's me. Most of the time I'm the 'here and now' person who becomes spontaneous and impulsive at times yet isn't the best person for long-term goal planning.

And probably that's why, eventhough I get so annoyed with the questions, I also throw them to my friends. Without realizing it, I also ask my parents, and uncles, aunts, cousins, or even my neighbors (this is clearly exaggerated, no worries) to know if they have a certain opinion. It has become a tendency whenever I come across my friends (or really, anyone), those questions sooner or later will come out in any kinds of conversation.

Actually, there are a lot of things you can choose from. Here are my thoughts. You can buy them, or leave them.

1. First, you can find a job. It's very easy, right?

Now before you go all mad at me, let me make this clear. Finding a job is easy, there are tons of jobs that you can get, and there are also companies who would easily hire you just because they need people to work for them. 

So finding a job is actually easy, but finding a job that you want, is hard. Or you know what, probably it's hard only because you don't know what you really want, YET. That's why after applying for random jobs, none of them had given you a satisfying result. Somehow there's this invisible thing that always gets in the way. What do you think?

My dad told me that back in his days, applying for jobs was A LOT harder. They had to write their own CV and application letter with their hands, and the companies were also harder to approach because there was no internet at the time (they had to buy the newspapers and look for job vacancies there), and the companies did not pass any company brochures or came to any job fair. Heck, job fair didn't even exist back then. So he said "becoming jobless for around 6 months is totally normal because it takes time to find a job you want".

"Six months? Are you crazy? All of my friends would have got a job if I waited that long!" You might think. But not like in old days, our life are much easier now. We've got internet to find almost anything, and now the companies are also reaching out to the students. It doesn't need to take 6 months to actually get a job. But we, Gen Ys could probably use the time to know what we wanna do.

"But most of my friends have got a job!" You said.
Well I don't know about you, but I'd rather think carefully before I land my first job (which I think is the first important step of my career ladder) than getting that job you don't really want ASAP just because of, you know, peer pressure. Don't take any job that you're not sure of. Take your time.

2. Take A Master's Degree (or a Diploma, or any other degree you want)

There are a lot of reasons why you should take a Master's degree right after you get your Bachelor's degree. You probably want to pursue a scholarship opportunity to study abroad (which would probably not come twice), or maybe you are finally sure of what you wanna study. Yes, it's probably Business that you want to study, not exactly Computer Science (by this I'm not trying to offend anyone but me, just so you know).

I have friends who are still doubtful about whether she/he's going to take a Master's degree directly or get a job experience first. Nowadays, we all try to solve our problems by Googling it. But if you searched about this so-called-dilemma, you would find tons and tons of pros and cons about getting a Master's degree before or after you start working.

If you're one of those who are having this dilemma, I don't quite have a good answer to solve your problem, but I'll share my opinion with you. If you ask me whether I want to take a Master's degree, I would say "Yes, I want to". But am I taking it right after I graduate? No. Because first, I'm not feeling sure enough of the major that I'd like to take for my Master's degree. I've decided to get a job first, then when I'm sure that I want to build a career in that field, I'd have a lot more serious consideration on taking that Master's Degree. I'd take the major that I've decided with more confidence. I also have several personal considerations which have led me to that decision.

So don't use the articles as your guide, folks. They are made by people, and different people have different kinds of opinion because they have their own circumstances. You may use them as references, as some of them are telling the facts, but most of them are purely subjective opinions based on their own experiences. Make a decision based on your circumstances and your own considerations. 
Quick tips: make a pros and cons list side by side. It would probably help (or confuse you even more).

3. Do Cool Internships!

This could be a choice if you felt like you need more working experience before getting a real job. Internships could even get you a job easier at the company you're working as an intern for, because it evaluates your performance and it doesn't only judge you from your CV and a 15-minute interview. You may have graduated, but getting an internship to warm you up before landing a job wouldn't hurt. Instead, it could give you time to build your strategy and preparation to get the job that you aim for.
Good luck!

4. Make your own awesome thing.

I also have friends who are passionate to become an entrepreneur. Well, most of my friends are coming from Computer Science major, so there are a lot of them who are planning to make a tech/IT start up after they graduate. As a person who isn't entrepreneur-minded just yet, I find them to be very passionate and independent. I also know some who have great values for their own start-ups. The thing is, their ultimate goal is not to become successful. Their goal is to become useful, to make something that creates huge positive impact to people. For example, I'm truly inspired by my senior who has made this awesome platform called Kreavi to connect creative talents in Indonesia. It's amazing how you can build something with values you don't only keep. I think that's an example of trusting your own values, living them, and making them happen.
So if you have values and dreams that you wish to come to life, and you have to guts to make them happen, why not?

5. Become the super housewife!

Hey, I'm not kidding. This probably works for the ladies. If you feel like you want to be the ultimate, best housewife in the world and you're totally supported by your parents and your current BF (not only emotionally but also financially *wink*) why not jump directly into practice? You'll have plenty of time to master your skills in cooking, taking care of households, and later, if you have kids, you're gonna be the full time mom every kid would love to have. And you can also make your own thing, instead of working from 9-5, you can start your own business at home. What could be more fun than being able to arrange your own working hours and spend plenty of quality time with your kids?

There are a lot of things you could do after you graduate, and when it comes to making the decision, you might have a lot of fears. But as Mahatma Gandhi said, "Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes". We WILL make mistakes no matter which path we're taking, but it's your call whether you would let them bring you down or let them be your stepping stones to make yourself a better person than before.

This is dedicated to all of my fellow fresh grads, may your next stages of life be blessed.

See you in next post :)

About Me

Pages

Flickr Images

Like us on Facebook