Wednesday, May 31, 2017

Belajar dari Google News Lab: Cerdas Menangkal Hoax Ala Jurnalis



Sumber: Tech Crunch

Seberapa sering kamu mendengar kata 'hoax' akhir-akhir ini? Sering? Saya juga. Akhir-akhir ini isu yang begitu marak diperbicangkan adalah masalah meluasnya distribusi informasi yang tidak akurat kebenarannya. Dapat dikatakan bahwa hoax adalah kata yang paling populer dijadikan sebagai 'nama panggilan' bagi informasi yang tidak benar.

Lucu juga, kalau merunut kembali penggunaan kata 'hoax' ini. Istilah ini pernah sering digunakan sebagai guyonan di salah satu forum terbesar Indonesia, lho. "No pic, hoax gan hehehe". Buat yang kurang paham maksudnya, frase tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan siapapun yang berbagi informasi agar menyertakan data pendukung (dalam hal ini foto) agar informasi tersebut menjadi valid dan dapat dipercaya oleh orang yang mengonsumsinya. Dalam hal ini logika yang digunakan sudah benar: jangan sembarang memercayai suatu informasi tanpa melakukan verifikasi terhadap kebenaran sumber informasi.

Seiring berjalannya waktu, isu mengenai hoax menjadi sorotan publik dan bahkan pemerintah Indonesia. Wajar saja, karena di era ini siapa saja dapat membuat dan membagikan konten (baik tulisan, gambar. atau video). Informasi yang ada terlihat sangat meyakinkan padahal tidak sesuai dengan fakta yang ada. Mulai dari informasi lewat broadcast message, status di Facebook, sampai berita di media besar dengan sumber gambar yang validitasnya perlu dipertanyakan membuktikan perlunya meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.

Workshop dari Google News Lab

Sumber: Dokumen Medina Image Dynamics

Berdasarkan fakta di atas, maka saya berniat untuk membagikan ilmu yang saya dapatkan di sebuah acara bernama Fact-checking dan Social Verification Workshop yang saya hadiri beberapa minggu lalu bersama para jurnalis media seluruh Indonesia. Saya merasa beruntung, karena walaupun saya bukan seorang jurnalis di tempat kerja saya, tapi saya diberikan kesempatan untuk ikut hadir dan menyerap pengetahuan.

Hal ini juga membuat saya lebih merasa beruntung lagi karena acara ini diadakan oleh Google News Lab bersama dengan mitranya First Draft. Saya juga baru tahu, bahwa Google News Lab adalah sebuah departemen / divisi baru yang terbentuk dari inisiatif perusahaan Google. Melalui Google News Lab, Google memiliki misi untuk berkolaborasi dengan para jurnalis dan entrepreneur dalam membangun masa depan media.

Terdapat empat hal yang menjadi fokus mereka dalam menjalankan program-programnya: Trust & Verification (Kepercayaan dan verifikasi), Data Journalism (Jurnalisme Data), Immersive Storytelling (Penyampaian cerita yang mendalam), dan Inclusive Storytelling (penyampaian cerita yang inklusif). Workshop ini adalah salah satu wujud implementasi dari program-program tersebut.

Melalui series blog yang saya namakan Google News Lab Series ini, saya akan mencoba menuangkan kembali ilmu yang saya dapatkan di workshop ini ke dalam beberapa tulisan.

Mengapa Penting Untuk Kamu yang Bukan Jurnalis?

Sumber: Pexels

Saat menghadiri workshop, saya terkesima sejenak. Mengapa? Karena pengetahuan semacam ini masih begitu eksklusif sehingga hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu (dalam kasus ini, akses diberikan kepada pekerja media dalam jumlah yang sangat terbatas). Padahal, sudah ada banyak tools dan kiat-kiat yang dapat digunakan untuk membantu kita memastikan kebenaran suatu informasi, sesederhana apapun informasi tersebut, seawam apapun seseorang dalam menggunakan internet.

Ada beberapa alasan kenapa pengetahuan ini penting bagi kamu yang bukan jurnalis, terutama kamu (iya, kamu) yang menggunakan internet secara aktif untuk membuat kontenmu sendiri atau hobi berbagi alias share berbagai macam informasi yang kamu temukan di internet. Pertama, agar kamu tidak membagikan informasi yang salah yang dapat menyesatkan pengguna internet lainnya. Kedua, agar kamu tidak ditangkap polisi karena telah melanggar hukum. Ketiga, supaya kamu tidak merasa malu sendiri karena telah membagikan informasi yang tidak benar. Terakhir, agar kita semua dapat berkontribusi terhadap ekosistem informasi Indonesia secara positif dan meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.

Jangan cuma jago membagikan gosip yang kamu dapatkan dari akun Instagram, atau sibuk membagikan artikel bertajuk kontroversial tanpa membaca terlebih dahulu isinya. 'Share, comment, dan katakan amin' tidak akan membawa kamu ke tingkat pemahaman yang lebih baik -- kamu hanya akan memperkaya pemilik Facebook/Instagram Fanpage dengan meningkatkan jumlah engagement yang mereka dapatkan.

Walaupun kamu jarang membagikan informasi apapun, pengetahuan ini tetap penting karena kamu secara aktif mengonsumsi konten lewat internet. Dengan mengetahui konten apa yang terpercaya dan apa yang berupa hoax / informasi salah, kamu dapat berkontribusi menyaring media apa saja yang informasinya sesuai fakta atau tidak.

Apa Topik yang Dibahas?

Mulai dari penjelasan mengenai jenis-jenis informasi yang salah (bukan cuma hoax lho!), cara mengetahui keaslian dan sumber foto maupun video, sampai berbagai macam tools yang dapat digunakan. Selain itu, juga ada kuis-kuis yang cukup mindblowing karena membuktikan betapa rentannya kita terhadap informasi yang salah.

Kapan dan dimana saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan Google News Lab series ini? Mulai minggu depan atau paling cepat di akhir pekan ini. Seiring berjalannya waktu saya juga akan menambahkan tautan ke artikel-artikel tersebut pada laman tulisan ini.

Jika kamu yang membaca artikel ini punya saran, kritik, dan komentar, silakan kirimkan melalui email atau pada kolom komentar ya.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Wednesday, May 10, 2017

Wahai Millennial Pembelajar: Kenapa Harus Bayar Kalau Bisa Bertukar Ilmu?

Sumber:Pexels

Namanya juga millennials, tidak pernah lelah mencari hal-hal baru yang menarik, menggugah semangat, dan yang paling penting menghilangkan rasa jenuh. Di era digital yang gemerlap ini, kaum millennials (termasuk saya) selalu memiliki keinginan lebih untuk mencoba hal-hal baru meskipun sudah punya bidang yang digeluti. Padahal, tidak jarang generasi yang lebih senior geleng-geleng kepala sambil mengelus dada dan menggumam "Maunya apa sih mereka ini, sudah punya pekerjaan bukannya fokus."

Generasi yang banyak maunya, maunya banyak

Kaum millennials dinilai pasti selalu ada saja 'pingin'-nya. Contohnya, ingin kerja kantoran bergengsi tapi punya usaha sendiri (jualan mi babi misalnya -- oke saya bercanda) atau suka ambil proyek freelance kecil-kecilan di samping profesi sebagai karyawan di ahensi besar internasional. Merasa familiar? Welcome to #millennialslyfe.

Sebenarnya, apa sih yang dicari? Ada yang bilang secara gamblang kepada saya bahwa yang dikejar adalah uang tambahan, karena gaji dari pekerjaan sekarang kurang dari cukup untuk tabungan pernikahan. Very straightforward. Wajar kalau uang menjadi salah satu motivasi utama, sekaligus hal yang menakutkan bagi millennials yang katanya nggak akan bisa beli rumah.

Selain itu, ada juga yang memilih untuk mencari pekerjaan tambahan karena alasan lifestyle. Ada kok salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa uang yang ia dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan sampingan ini ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan lifetsyle yang harus ia penuhi sebagai makhluk yang tinggal di tengah riuhnya kota Jakarta -- nongkrong, makan di restoran, dan sebagainya.

Kali ini, yang saya ingin bahas kali ini adalah sebuah kebutuhan lain dari kaum millennials dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, yaitu belajar.
"Belajar? yekali deh."
Loh iya, belajar. Walaupun terkesan membosankan dan terlampau serius, ini adalah sebuah fakta yang dihadapi sebagian besar millennials dalam usia produktifnya. Saya sendiri menyadari bahwa pekerjaan dengan gaji yang cukup saja justru tidak cukup, karena sifatnya fungsional. Kita membutuhkan gaji karena dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat tukar resmi yang digunakan adalah uang.

Belajar Apa yang Dimaksud?

Sumber: ellispond.com

Sekarang, coba lihat keadaan di sekitar. Berapa banyak temanmu yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa 'gitu-gitu aja' karena tenggelam dalam rutinitas atau 'merasa tidak berkembang'? Pasti banyak. Menurut majalah Forbes, Pengembangan kemampuan diri (belajar) adalah salah satu manfaat kerja yang paling penting bagi kaum millennials. 

Saat kita tidak merasa belajar sesuatu, pada akhirnya kita akan merasa kurang 'hidup'. Istilah 'kurang hidup' ini ada banyak cara penyampaiannya, mulai dari 'ah, gw jenuh', 'kerjaan gue kurang challenging', 'butuh variasi', dan sebagainya. Jangan salah, keinginan belajar yang tidak terpenuhi ini bukan berarti disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang, lho. Menurut pendapat pribadi saya (boleh setuju boleh tidak), bisa dibilang orang-orang yang berhenti dari pekerjaannya karena kurang 'belajar' ini, sebenarnya lebih tepatnya kekurangan waktu untuk bisa melakukan eksplorasi dan belajar hal lain di luar pekerjaan tetap yang sudah menjadi tugasnya.

Kebutuhan untuk belajar ini hanyalah kebutuhan berbeda yang ingin didapatkan di luar bidang yang memang sudah ditekuni. Misalnya seorang akuntan, yang ingin mahir dalam berbagai bahasa. Atau seorang programmer, yang ternyata punya keinginan terpendam untuk jadi pelari marathon. Atau seperti saya, seorang digital marketer yang ingin belajar menulis, video editing, masak, lalu ah.... sudahlah.

Ide Mentah: Mempermudah yang Seharusnya Mudah

Sayangnya, banyak kendala yang dihadapi. Sebagian kendala yang paling sering ditemui adalah uang, karena walaupun terdapat banyak kursus, dari yang terpampang di mall sampai yang dipromosikan di akun-akun Instagram bertema kekinian, merogoh kocek pribadi untuk kursus seringkali terasa berat. Berangkat dari situasi ini dan kesadaran saya bahwa setiap orang diberkati dengan talenta yang berbeda-beda, maka tercetuslah sebuah ide yang saya sebut 'barter ilmu'.


Apa itu barter ilmu?

Sumber: Time Out London
Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa aset terbesar yang kita miliki adalah waktu. Harta, tahta, dan wanita sering jadi tujuan utama seseorang dalam menjalani hidup, tapi waktu tidak bisa kembali dan tidak bisa dibeli #eyaa. Kemudian, hal berharga apa lagi yang ketika dibagikan justru semakin bertambah dan tidak akan habis? Jawabannya adalah ilmu.

Sebelum kamu muntah baca tulisan barusan, please bear with me for another minute. 

Mungkin bukan saya orang pertama yang terpikirkan ide ini, tapi konsep barter ilmu yang saya pikirkan adalah proses dengan langkah-langkah seperti ini:

1. Menyadari kemampuan yang dimiliki

Pertama, pikirkan kemampuan apa yang kamu miliki. Tidak harus jago-jago banget- sesuai kemampuanmu saat ini saja. Ini bisa saja sesuatu yang sangat kamu suka, bisa yang sifatnya teknis seperti programming kalau anda anak IT yang suka coding (jelas saya bukan salah satunya), sampai hal-hal yang terkesan sepele tapi sebenarnya adalah sebuah talenta (sesederhana mengatur pose kece temanmu yang hobinya foto OOTD).

2. Ingin belajar apa?

Sudah ketemu? Masuk ke langkah kedua. Pikirkan apa kemampuan atau ilmu yang selama ini ingin kamu pelajari tapi terkendala berbagai hal. Mulai dari waktu, biaya (karena segala macam kursus, terutama yang ada di kota besar semakin nggak ngotak harganya), sampai niat (karena anda orang yang suka banyak alasan -- seperti saya). Ingin jago presentasi? Lebih disiplin waktu? Bisa masak? You name it. Sebagai awalan, cukup pilih salah satu.

3. Be the one they need, find the one you need

Selanjutnya, pikirkan siapa yang punya kemampuan ini dan mampu membagi ilmunya dengan baik. Kemudian, pikirkan siapa yang sekiranya akan tertarik untuk mempelajari ilmu yang kamu punya. Sudah? Cari orang yang memenuhi kedua kriteria di atas.

Lewat mana? Kamu bisa mencarinya lewat jaringan pertemananmu. Saya pribadi mengamati jaringan pertemanan saya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter karena dari situ saya mendapatkan gambaran mengenai kemahiran teman-teman saya dan apa yang sekiranya mereka butuhkan.
Selain itu, melalui internet kamu bisa mulai aktif di forum atau media sosial. Rekomendasi pribadi saya untuk membangun jaringan profesional (sekaligus jaringan ilmu) adalah LinkedIn dan Quora.

4. Langkah berikutnya: shoot the question!

This could be a little tricky, but it actually challenges you to be able to 'market' yourself / your skills.
Misalnya, kamu ingin barter ilmu marketingmu dengan kemampuan mengedit video-video keren ala Youtuber yang dimiliki oleh temanmu.

Mulai dengan percakapan santai seperti ini: 'Hey, video-video yang lo buat keren banget efek-efeknya! belajar dari mana?' *kemudian dia akan menjawab 'oh gue belajar sendiri, oh gue ngeles' dan sebagainya*. Kemudian, karena kamu mengetahui bahwa dia adalah seorang Youtuber (misalnya) dan dia memerlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai Youtube marketing -- sedangkan kamu paham betul bidang ini karena ini bidang pekerjaanmu -- kamu bisa bilang 'Eh, gimana kalau kita barter ilmu? Gue pengen belajar mengenai video editing dari lo, dan sebagai timbal baliknya gue bisa berbagi hal yang gue tahu mengenai Youtube marketing supaya Youtube channel lu banyak yang subscribe dan video views lu bertambah banyak. Gimana?'

What makes it so special?

Sumber: Pexels

This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge. Memang, belajar segala sesuatu secara gratis juga bisa dilakukan secara otodidak. Belajar bahasa asing misalnya, kamu bisa menemukan banyak free online course di situs-situs seperti iniBut having a friend who knows better about the field + guides you through your learning is certainly an advantage.

Selain itu, dengan saling bertukar ilmu, kamu tidak hanya bertambah pandai dalam ilmu 'gratis' yang kamu dapatkan dari temanmu ini -- kamu juga semakin pandai dalam ilmu yang kamu bagikan. Seperti pepatah "When you teach, you learn" dari seorang filsuf bernama Seneca: pada logika mendasarnya, untuk bisa mengajari atau berbagi ilmu dengan orang lain kamu tentu harus memiliki tingkat pemahaman tertentu. Berbeda dengan mengonsumsi ilmu untuk diri kita sendiri, agar dapat berbagi ilmu dengan baik kita harus jauh lebih memahami ilmu tersebut.
"This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge."
Ditambah lagi, ini bukan hanya sebuah pepatah atau teori, karena sudah terdapat berbagai studi yang membuktikan bahwa seseorang yang belajar membagikan ilmunya pada orang lain pada akhirnya akan menjadi jauh lebih paham akan ilmu itu sendiri. You will learn better.

Intinya? Kembali ke Preferensi Masing-masing

Memang, konsep ini dapat bertentangan dengan berbagai pendapat. Misalnya, ada yang merasa lebih baik kursus karena merasa mampu membayar dan tidak perlu 'menghabiskan' waktu mengajari orang lain. Kedua, mungkin sulit untuk menemukan ilmu yang dapat kamu bagikan kepada orang lain. Ketiga, mungkin kamu kurang percaya diri bahwa ilmu dan kemampuan yang kamu miliki cukup 'berharga' untuk dibagikan, apalagi ditukarkan dengan ilmu yang ingin kamu dapatkan dari orang lain.

Pertama, kalau memang kamu merasa punya uang dan lebih suka untuk bayar (menggunakan uang, tentunya) untuk kursus karena lebih sederhana dan tidak ribet serta adanya jaminan untuk belajar dari seseorang yang tersertifikasi (misalnya), then it's totally fine. Semua orang memiliki preferensinya sendiri dalam melakukan sesuatu dan saya menghormati itu. Tapi untuk kamu yang sedang mencari alternatif berbeda dalam menambah kemampuan atau belajar hal-hal baru, mungkin ini bisa jadi salah satu cara.

Kedua. Kamu merasa ilmu yang kamu punya kurang berharga? Mungkin kamu perlu berkunjung sebentar ke situs bernama Fiverr. Apa itu? Fiverr adalah sebuah situs online yang memungkinkan siapapun untuk menawarkan jasanya dengan harga semurah $5 saja. Jangan salah, banyak orang yang mampu menjual jasa yang terkesan sepele, bahkan terlihat lucu dan sedikit nyeleneh seperti jasa edit dan pilih foto profil online dating di Tinder. Benar, sesederhana itu. Nah bedanya, dengan platform seperti ini, kamu bisa menjual apa saja dengan imbalan uang. Sedangkan dengan sistem barter ilmu, yang kamu dapatkan adalah ilmu. Masih merasa kamu tidak punya kemampuan apa-apa atau kemampuanmu tidak berharga?  Think again. Selain itu, ada banyak alasan kenapa kamu sebaiknya mulai berbagi ilmu walaupun kamu belum expert dalam suatu bidang. Ini salah satu artikel yang menjelaskannya dengan cukup baik.

---

Sampai pada poin ini, mungkin kamu yang membaca ini akan berpikir, "Will it be worth it?" "Will it work?". Sejujurnya, saya sendiri belum dapat menjamin, tapi saya ingin memulainya. Di dunia yang serba cinta uang saat ini memang terkesan mustahil untuk mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma, bukan? Wajar kalau ada banyak orang yang membaca artikel ini menjadi ragu, lalu skeptis.

Tapi, saya yakin bahwa saya bukan satu-satunya orang yang memiliki pemikiran bahwa ilmu lebih berharga daripada uang; uang mungkin dapat membuatmu kaya secara jasmani, tapi hanya ilmu yang dapat memenuhi jiwa dan akal budi.

Bagaimana menurutmu, apakah konsep barter ilmu ini menarik untuk ditindaklanjuti? Saya sih mau segera mencoba. Atau ada yang tertarik mencoba barter ilmu dengan saya? :))

"Kalau millennials seperti kita banyak maunya, apa barter ilmu bisa jadi salah satu solusi?"

Selamat berkontemplasi dan silakan berkomentar.

Tuesday, March 14, 2017

Perbuatan Terkutuk Itu Bernama Pelecehan Seksual: Catatan Seorang Korban

Ditulis oleh: Janet Valentina dan Febby Widjayanto

Hari Perempuan Internasional belum lama berselang, tetapi kejahatan dan pelecehan terhadap tubuh perempuan masih terus berulang. Melalui tulisan ini penulis ingin mengungkapkan kekesalan yang sebenarnya telah lama terpendam namun kembali menyeruak karena sebuah kejadian yang baru penulis alami.

Awal mula problema

Cerita ini dimulai saat penulis kembali dari sebuah rumah makan. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 9 malam, di mana jalanan di sekitar tempat penulis tinggal mulai sepi. Sebenarnya malam ini sudah terlalu larut untuk pergi mencari makan, tapi penulis tidak merasa khawatir karena selama lebih dari setahun penulis tinggal di area ini penulis tidak pernah mengalami hal buruk yang dapat mengancam keselamatan penulis.


Perjalanan antara rumah makan dan tempat tinggal penulis merupakan rute yang sangat sederhana, apalagi lokasi keduanya hanya dipisahkan oleh jarak sekitar 300 meter. Namun, penulis tetap memilih untuk berjalan kaki melalui jalan raya sebagai bentuk kewaspadaan pribadi yang muncul secara intuitif. Rute jalan kaki ini adalah rute yang sudah puluhan kali penulis lewati, tidak jarang pula penulis melewatinya sendirian pada waktu yang sama larutnya atau justru lebih larut dari perjalanan penulis malam ini.


Saat penulis hampir sampai, dimana penulis hanya perlu menyeberangi jalan dan sebuah taman untuk berhasil mencapai tempat tinggal penulis dengan selamat, penulis melihat seorang pengendara motor melaju ke arah penulis. Penulis merasakan adanya kejanggalan, karena motor tersebut melaju melawan arus jalan (jalan tersebut adalah jalan satu arah), namun penulis abaikan karena ironisnya hal ini merupakan hal yang sering terjadi di Jakarta.

Semakin anehnya, pengendara motor tersebut kemudian tiba-tiba berhenti sekitar 3-4 meter dari penulis, tidak jadi melintas. Penulis mengira ia berhenti karena ingin menunggu penulis menyeberang, namun ia memandangi penulis dengan tatapan yang memberikan perasaan tidak nyaman selama beberapa detik. Tidak menghiraukan hal tersebut, penulis yang tadinya ingin menyeberangi jalan lalu mengurungkan niat, bermaksud untuk mempersilakan pengendara motor tersebut lewat terlebih dahulu sambil melangkah mundur.

Selang beberapa saat setelah penulis mundur dan mengalihkan pandangan dari pengendara tersebut, penulis mendengar suara mesin motor melesat dengan kencang ke arah penulis. Semuanya terjadi begitu cepat ketika pengendara motor itu dengan beringas melayangkan tangannya ke arah payudara penulis dan menjamahnya dengan paksa. Belum sempat penulis bereaksi, pengendara motor tersebut sudah hilang dari pandangan, melaju dengan cepat dalam kepengecutannya.

Penulis masih berdiri diam dan syok tidak berkutik menyadari apa yang baru saja penulis alami. Sebuah pengalaman sangat-sangat tidak menyenangkan dan tidak terlupakan: pelecehan seksual.

Friday, February 24, 2017

Bukan Mustahil Menembus 8 Universitas UK Untuk S2, Asalkan Motivation Lettermu Memenuhi Hal ini

Catatan penting:


Ulasan ini ditulis berdasarkan pengalaman dari dua orang yang berbeda di tahun yang berbeda pula, namun sama-sama melamar di kampus-kampus ternama Britania Raya. Meskipun kami melalui proses dan tantangan yang berbeda, dari pengalaman kami, kami sama-sama ingin menekankan satu elemen krusial dalam proses mendaftar universitas luar negeri, yakni: motivation letter.


Tulisan ini tidak dibuat untuk 'mendikte' kamu tentang apa yang idealnya harus kamu lakukan, melainkan untuk memberikan gambaran dan masukan serta referensi yang dapat kamu pelajari dari sepetik pengalaman ini. Agar nantinya kamu bisa membekali dirimu dengan 'senjata' berupa motivation letter yang telah diasah dengan penuh kecermatan, sehingga siap digunakan untuk 'bertempur' di medan bernama 'University.

Sepenting apa sih motivation letter?

Bagi yang memiliki rencana untuk berkuliah di luar negeri, biasanya ada serangkaian persyaratan yang harus dipenuhi agar aplikasi pendaftaran dapat dipertimbangkan. Tidak hanya persyaratan yang bersifat kuantitatif seperti transkrip nilai dan IPK, mayoritas universitas di luar negeri juga mewajibkan calon mahasiswa untuk menulis motivation letter atau disebut juga personal statement.

Motivation letter adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan diterima atau tidaknya kamu di sebuah universitas. Mengapa demikian? Ibarat 'juru bicara', motivation letter berfungsi sebagai penyampai motivasimu mendaftar ke universitas tujuan. Melalui motivation letter, pihak universitas dapat mengenalmu secara pribadi. Hal ini lah yang menjadi bahan pertimbangan penting dari seorang kandidat magister.

Sebagai introduksi, saya mendaftar kuliah S2 di empat Universitas di UK: University of Manchester, University of Leeds, University of Edinburgh, dan University of Warwick pada akhir tahun 2015. Empat universitas ini saya pilih karena unggul pada bidang bisnis dan manajemen, sesuai dengan bidang studi yang ingin saya tekuni. Sedangkan rekan saya mengirim aplikasi ke lima kampus di akhir tahun 2014: University of Birmingham, University of Bristol, University of Sheffield, University of Sussex, dan University of Manchester. Kelimanya ia pilih karena semua kampus tersebut memiliki pusat studi yang cukup progresif di bidang pembangunan internasional, selaras dengan disiplin ilmu yang ia minati.

Secara umum, tujuh dari delapan universitas di atas masuk dalam daftar 50 Universitas terbaik di dunia versi QS World University Ranking 2015/2016. Suatu kegembiraan bagi kami saat mengetahui bahwa kami mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari semua universitas tersebut.

Apa saja yang hal yang harus ditonjolkan dalam Motivation Letter?


Berkaca pada pengalaman mendaftar di delapan universitas tersebut, kami pun menganalisis faktor-faktor pada motivation letter kami yang membuat kami diterima. Dari analisis tersebut, kami berkesimpulan bahwa motivation letter yang memenuhi kriteria di bawah ini lah yang menjadikan kami kandidat yang berhasil menembus seleksi:
  1. Alasan memilih universitas


Terdapat dua macam alasan yang wajib dikemukakan dalam sebuah motivation letter. Pertama, jelaskan tentang aspek akademis yang mendorongmu untuk memilih suatu universitas. Contohnya adalah keunggulan riset, peringkat universitas atau program studi, fasilitas, dan teknologi tertentu yang akan mendukung kegiatan belajarmu.

Selain itu, kamu juga bisa memaparkan mata kuliah yang ingin kamu ambil untuk mendukung tujuan studimu. Maka, pastikan telah melakukan riset secara mendalam terhadap universitas yang kamu pilih.

Kedua, untuk mendukung alasan akademis yang kamu utarakan, pertimbangan non akademis seperti suasana kota, biaya hidup, organisasi Persatuan Pelajar Indonesia, dan keberagaman komunitas-komunitas etnis maupun budaya juga dapat ditambahkan supaya Universitas semakin yakin dengan keinginanmu untuk kuliah di sana.

Dengan kata lain, anggaplah kamu sedang menyanjung universitas, namun tidak secara buta karena didasari oleh data. Jadi, bukan bermaksud untuk ‘menjilat’ universitas demi sebuah kursi, melainkan menunjukkan bahwa kita telah memahami profil universitas tujuan dengan baik.
  1. Latar belakang studi, pengalaman, dan minat


Hal selanjutnya yang penting untuk disampaikan dalam motivation letter adalah siapa dirimu dan dimana kamu telah berkiprah. Sebagai contoh, pada motivation letter saya menceritakan bagaimana perjalanan kuliah S1 saya pada bidang Teknik Informatika membawa saya kepada eksplorasi dunia pemasaran digital setelah lulus. Latar belakang ini yang membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk memperdalam ilmu di bidang pemasaran dengan mengambil studi magister.

Di dalam motivation letter sebaiknya terdapat benang merah antara studi, pengalaman, dan minat yang pada akhirnya mendukung alasanmu untuk melanjutkan studi ke tingkat S2.

Pada bagian inilah kamu juga dapat secara bebas mengelaborasikan berbagai kebolehanmu lewat pengalaman dan prestasi yang kamu miliki baik saat kuliah (lewat kegiatan belajar dan organisasi kemahasiswaan) maupun pengalaman kerja bagi yang sudah bekerja. Menggunakan cara ini, kamu dapat meyakinkan universitas akan bahwa kamu mampu belajar mengikuti standar kurikulum universitas di UK.

Catatan: Beberapa program studi mewajibkan kandidat magister untuk memiliki latar belakang S1 yang linier dengan program studi S2 pilihan. Jadi, pastikan kamu telah membaca dengan teliti program studi yang ingin kamu ambil agar memenuhi persyaratan akademis sebelum menulis motivation letter.

3. Relevansi studi dengan rencana karir setelah lulus

Sumber: Pexels

Universitas mana pun tentunya ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas dan punya kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, motivation letter sebaiknya dapat menjelaskan dengan baik bagaimana studi magister yang kamu ambil dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap rencana karirmu setelah lulus.

Rekan saya misalnya, mengambil studi pembangunan internasional karena memiliki aspirasi untuk menjadi pegawai publik yang mampu menganalisis dan menawarkan cara pandang baru dalam narasi pembangunan nasional. Di sisi lainnya, saya memutuskan untuk belajar pemasaran karena ingin mengembangkan industri digital dan kreatif yang berkontribusi dalam pemajuan ekonomi berbasis digital melalui ilmu yang saya pelajari.

Mengambil magister di luar negeri tentunya merupakan keputusan yang tidak diambil sembarangan. Melalui poin ini, kamu dapat menunjukkan keseriusanmu untuk belajar melalui rencana jangka panjang yang kamu paparkan.

Sebelum mengirim motivation letter, pastikan kamu:

  1. Tidak menulis hanya satu motivation letter untuk semua universitas yang kamu lamar.

Artinya, kamu harus memberikan usaha lebih untuk melakukan riset terhadap tiap universitas. Kawan saya membuat lima motivation letter yang berbeda dimana isinya disesuaikan dengan kriteria di atas dan profil masing-masing universitas yang tentunya berbeda. Meski agak merepotkan, justru hal ini membantu kita memetakan alternatif universitas mana saja yang menjadi tempat kita belajar nanti.
  1. Meninjau ulang tulisan (proofreading)

Proofreading adalah kegiatan yang nantinya akan sangat akrab denganmu di bangku perkuliahan S2. Jangan sungkan meminta bantuan dari teman atau kerabat untuk membaca kembali motivation letter yang sudah kamu tulis. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa motivation lettermu dapat dipahami maksudnya oleh orang lain -- selain diri kamu sendiri.
  1. Tidak menjiplak karya orang lain

Salah satu kesalahan terbesar dalam pembuatan motivation letter adalah menjiplak motivation letter orang lain; mengambil karya orang lain sebagai referensi adalah hal yang positif, tetapi meniru mentah-mentah tulisan orang lain sama saja dengan meremehkan kemampuanmu sendiri. Padahal, dengan menjadi orisinil, universitas dapat menilai bahwa kamu adalah kandidat yang berbeda dan pantas untuk diperhitungkan.

Selain itu, dengan terbiasa tidak melakukan plagiarisme, kamu akan membentuk suatu kebiasaan baik yang membantumu untuk ‘selamat’ dalam melakukan kegiatan akademik di kampus seperti penulisan esai, makalah, jurnal, presentasi, laporan, dan karya ilmiah lainnya. Plagiarisme sekecil apapun tidak akan ditolerir dalam dunia akademis, terutama di UK. Jadi, jangan giat melakukan plagiat, ya.
  1. Memenuhi poin-poin yang diminta oleh universitas

Tidak jarang, selain hal-hal penting yang sudah dibahas di atas, universitas tertentu memberikan daftar pertanyaan tambahan yang harus dijawab oleh kandidat mahasiswa. Biasanya ini bertujuan untuk mengetahui lebih rinci pengalaman yang kamu miliki. Selalu periksa kembali jenis motivation letter yang disyaratkan oleh universitas tujuanmu.

Demikianlah hal-hal yang menurut kami bersifat esensial keberadaannya dalam pembuatan motivation letter. Proses yang kami lewati dalam membuat motivation letter memang membutuhkan niat dan usaha yang tidak sedikit, tetapi proses tersebut lah yang justru membuat kami semakin sadar bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan S2 di luar negeri tidak boleh disia-siakan, apalagi dianggap sepele.

Semoga tulisan kami menjadi sumbangan motivasi bagi para pembelajar di Indonesia yang sedang bersemangat mengejar studi di luar negeri :)

---
Artikel ini juga telah dipublikasikan di IDN Times

Sedikit pesan dari bapak Presiden RI :)



Sunday, September 11, 2016

Beasiswa Pemerintah Buat si Cina: Patahkan Stigma Buruk Pemerintah Indonesia


Prolog
Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, saya mendapatkan keputusan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan bahwa saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia. Apakah saya merasa senang mendengar berita tersebut? Pasti. Akan tetapi, terdapat pelajaran yang lebih berharga di balik nilai sebuah beasiswa yang berarti layaknya hasil sebuah kerja keras. Pelajaran tersebut ingin saya bagikan melalui tulisan ini.
---

Pilihan, Usaha, dan Hasil

Semua dimulai ketika saya telah bekerja hampir dua tahun semenjak lulus kuliah. Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan perenungan, saya memutuskan untuk mengejar keinginan saya untuk kuliah S2 dan berburu beasiswa untuk dapat membiayainya. Oleh karena itu, saya lalu melakukan berbagai riset (mencari informasi secara online dan dengan bertanya kepada teman-teman), mempersiapkan diri, dan akhirnya memilih untuk mendaftar ke program Beasiswa Pendidikan Indonesia, salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI.
Begitu besar harapan saya agar mendapatkan beasiswa ini, apalagi sebelumnya saya telah menghabiskan waktu satu tahun untuk berdebat dengan diri sendiri, berusaha mengalahkan ego dan rasa takut akan kegagalan – bahkan sebelum saya mencoba. Maka, saya begitu mantap mendaftarkan diri saya ke batch pertama seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016.

Ternyata hasil seleksi tersebut jauh dari apa yang saya harapkan. Ya, saya tidak lolos seleksi. Saya masih ingat dengan begitu jelas bagaimana saya mempersiapkan diri untuk seleksi substantif yang merupakan seleksi akhir di batch pertama tersebut. Seleksi substantif LPDP terdiri dari tiga jenis seleksi: seleksi penulisan esai di tempat (on the spot essay), Leaderless Group Discussion, dan wawancara. Pengalaman tersebut merupakan yang pertama bagi saya; saya belum pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa apapun sebelumnya. Jadi, proses tersebut begitu menegangkan dan membuat saya gugup.

Sayangnya, kegugupan tersebut lah yang membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri saat menghadapi seleksi. Saat mengerjakan esai dan mengikuti Leaderless Group Discussion performa saya jauh dari maksimal. Ditambah lagi, pada saat wawancara, kegugupan saya membuat saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tim seleksi dengan tenang. Alhasil, saya tidak dapat menyampaikan latar belakang, tujuan, dan rencana studi saya dengan baik. Firasat saya yang kurang baik terhadap seleksi itu pun terbukti benar saat hasil seleksi diumumkan melalui surat elektronik. Tulisan TIDAK LULUS berwarna merah terang dan ukuran yang begitu besar memberikan perasaan yang terlampau mirip dengan mendapatkan nilai jeblok saat ujian sekolah, tetapi sebenarnya lebih serupa lagi dengan perasaan saat mengalami patah hati.

Ditambah lagi, perasaan sedih karena ketidaklolosan saya tidak hanya disebabkan oleh perasaan gagal, tetapi juga karena saya merasa mengecewakan orang-orang yang telah percaya dan mendukung saya. Ketika orang tua saya bertanya mengenai hasil seleksi tersebut dengan penuh harapan, dengan berat hati saya menjawab bahwa saya belum lolos seleksi di tahap ini.

Tidak Familiar dengan Beasiswa Pemerintah

Sebagai informasi, keluarga saya adalah keluarga etnis Tionghoa yang tidak begitu akrab dengan beasiswa pemerintah, begitu pula dengan kerabat-kerabat saya. Keinginan saya untuk bersekolah S2 dengan beasiswa pemerintah sempat memunculkan berbagai keresahan. Sempat pula orang tua saya, yang adalah pegawai swasta dengan latar belakang pendidikan sarjana S1, beranggapan bahwa lebih baik saya mengejar tangga karir dengan bekerja di perusahaan yang besar dan stabil daripada kembali bersekolah. Namun, setelah diskusi dan penjelasan yang panjang, pada akhirnya kedua orang tua saya begitu mendukung keinginan saya ini. Kemudian, beritanya pun tersebar kepada para kerabat saya di keluarga besar. Saya berusaha memaklumi, karena keluarga besar saya memiliki kultur keluarga yang senang berbagi informasi ‘update’ mengenai keluarga masing-masing, apalagi yang terkait dengan perkembangan anak-anak. Walaupun bukan harapan saya agar informasi ini menyebar viral, tentunya dukungan-dukungan yang ada tetap saya jadikan dorongan dan sumber motivasi.
"Kalau kamu dapat beasiswanya, kamu nggak dikontrak untuk bekerja di instansi pemerintah kan?" dengan tatapan bergidik ngeri. Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang lain saat tahu bahwa saya mendaftar ke program beasiswa yang dikelola pemerintah.

Sayangnya, karena begitu banyak kerabat yang mengetahui mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti ini, tentu mereka juga akan menanyakan hasilnya. Saya langsung memprediksi bahwa mama saya akan dihujani pertanyaan mengenai hasil seleksi yang telah saya lewati. “Gimana, si Janet dapat nggak beasiswanya?”


Gagal: Di antara Meritokrasi dan Diskriminasi

Banyak yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tetapi saya tidak dapat memungkiri betapa harapan saya hancur mengetahui saya tidak lolos seleksi. Perasaan ditolak tidak akan pernah menjadi perasaan yang menyenangkan, dan kadang seolah-olah hidup enggan untuk memberikan hasil yang setimpal dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan. Maka, menghadapi kegagalan tersebut, saya hanya berharap orang-orang yang mengetahuinya hanya akan memberikan saya dukungan yang lebih besar dan teriakan semangat yang lebih keras.

Mama saya yang mengerti hal tersebut, tidak pernah lupa memberitahu saya reaksi kerabat-kerabat saya yang satu persatu mengetahui hasil seleksi tersebut dari sang mama. Ada yang kasihan, ada yang terus menyemangati. Saya merekam satu persatu pesan-pesannya, merasa berterima kasih. Sampai suatu hari, di antara sejumlah reaksi yang saya terima, datang sebuah reaksi yang begitu menampar saya.
"Diskriminasi banget sih!" ujar salah satu kerabat saya begitu mengetahui saya tidak lolos.

"Diskriminasi? Diskriminasi apa?" pikir saya, mengernyitkan dahi dengan intensnya. 
Duka akan kegagalan saya seketika memudar. Saat itu, yang kemudian justru membuat saya terganggu bukan lagi rasa bersalah saya karena telah memupuskan harapan orang lain, melainkan reaksi berupa prasangka buruk yang berusaha memberikan justifikasi bahwa ketidaklolosan ini adalah hasil tindakan diskriminatif. Ya, saya dianggap tidak lolos karena saya berasal dari etnis Tionghoa yang merupakan kaum minoritas di Indonesia.

Saya yang awalnya merasa begitu kecewa karena tidak lolos seleksi, menjadi jauh lebih kecewa karena kegagalan saya dianggap lumrah. Ketika reaksi yang saya ekspektasikan adalah "Wah, nggak apa-apa. Coba lagi ya! Lebih semangat mempersiapkan seleksi selanjutnya ya. Kamu pasti bisa!" yang saya dapatkan adalah "Wah, wajar itu. Pantas saja kamu nggak mendapatkan beasiswa, namanya juga beasiswa pemerintah, ya pasti yang diberikan kebanyakan anak-anak pribumi saja."
Rasa geram dan sedih pun bercampur menjadi satu. Pandangan dan prasangka mereka terhadap negeri ini begitu buruknya, sampai-sampai sebuah lembaga negara yang profesional pun diragukan profesionalitasnya.

Menurut saya, pemikiran seperti ini keliru.

Subjektifitas pasti ada dalam seleksi manapun, tidak hanya satu beasiswa saja, tetapi beasiswa manapun. Ini juga berlaku di dalam seleksi masuk kerja. Mengapa? Karena proses seleksi tidak cukup hanya melihat prestasi akademis maupun kemampuan yang dapat diukur secara kuantitatif. Seleksi wawancara yang memiliki bobot terbesar pun menjadi sesuatu yang lumrah, karena hanya lewat seleksi wawancara lah tim seleksi dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui nilai-nilai  maupun tujuan yang dipegang oleh peserta seleksi. 

Hal-hal tersebut menjadi tolak ukur terbesar keberhasilan dalam suatu seleksi karena seleksi adalah sebuah proses perekrutan calon anggota ke dalam suatu kelompok, badan, atau organisasi yang membutuhkan keseragaman visi dan misi pesertanya.
“Saya berpikir bahwa saya tidak lolos karena belum dapat memenuhi kriteria, tapi tidak pernah sedikitpun saya menarik kesimpulan bahwa kriteria tersebut adalah menjadi seorang pribumi.”

Saat itu, ingin rasanya saya membantah dengan berkata: "Bukan. Salah. Saya tidak lolos seleksi bukan karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa seperti yang kalian pikirkan, melainkan karena saya tidak mempersiapkan diri dengan baik.", tapi tentu akan sia-sia kalau tidak dibuktikan melalui tindakan. Maka, saat pendaftaran tahap kedua seleksi LPDP di tahun 2016 dibuka, saya berusaha mempersiapkan diri lebih baik dan kembali mendaftar. Saya tidak lagi hanya bersemangat lebih besar untuk meraih kesempatan belajar dan membangun kualitas diri yang kelak dapat menyumbangkan kontribusi bagi Indonesia, tetapi juga untuk membuktikan bahwa prasangka tersebut salah besar.

Tepat pada tanggal 10 Juni 2016, saya berhasil membuktikannya. Saya lolos seleksi substantif yang merupakan seleksi terakhir program Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI. Saya lolos.
Dan terakhir kali saya cek, saya masih keturunan Tionghoa tuh. *badumtsss*
Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah air ini. Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas. Harapan saya, stigma negatif pemerintah Indonesia akan semakin memudar, seiring dengan bertambahnya instansi pemerintahan yang menjunjung tinggi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.
Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas.
 ---

Epilog

"Ci! Ci! Cina! Cina!" sekelompok remaja laki-laki dari seberang jalan berteriak-teriak sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk saya dan dua orang teman saya yang kebetulan juga keturunan Tionghoa, di perjalanan menuju sekolah. Bagi mereka hal itu lucu -- bagi saya, itu sangat menakutkan. 

Sebenarnya saya memahami bahwa mungkin setiap keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki setidaknya satu pengalaman yang buruk dengan adanya diskriminasi terhadap etnis, budaya, maupun agama. Saya pun tidak mudah mengabaikan panggilan-panggilan iseng yang dianggap harmless tapi menurut saya mengintimidasi. Maksud saya, tidak mungkin mereka paham bahwa hal kecil seperti itu membuat saya ngilu mengingat cerita kerusuhan di tahun 1998, dimana banyak wanita keturunan Tionghoa menjadi menjadi korban pemerkosaan.

Jadi, saya tidak akan memaksa para pembaca, khususnya yang pernah mengalami diskriminasi ataupun bullying dalam bentuk apapun di masa lampau, untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Yang terjadi memang sudah terjadi. Tetapi negeri ini hanya akan semakin maju apabila kita berpikiran terbuka dan pelan-pelan meninggalkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Jika seseorang melakukan hal yang tidak adil kepada orang lain, itu kesalahannya, bukan kesalahan sukunya, etnisnya, agamanya, atau apapun golongan lainnya yang cenderung digeneralisasikan.

Bayangkan, tanpa ribuan penilaian keliru yang kita buat, berapa juta musuh yang dapat seketika berubah menjadi sahabat?

"Our privilege to make personal judgment based on our experiences should never stop us from being open-minded and kind to everyone.” – Janet Valentina

Until next post,

Janet.

© Janet Valentina
Maira Gall