Tuesday, March 14, 2017

Perbuatan Terkutuk Itu Bernama Pelecehan Seksual: Catatan Seorang Korban

Ditulis oleh: Janet Valentina dan Febby Widjayanto

Hari Perempuan Internasional belum lama berselang, tetapi kejahatan dan pelecehan terhadap tubuh perempuan masih terus berulang. Melalui tulisan ini penulis ingin mengungkapkan kekesalan yang sebenarnya telah lama terpendam namun kembali menyeruak karena sebuah kejadian yang baru penulis alami.

Awal mula problema

Cerita ini dimulai saat penulis kembali dari sebuah rumah makan. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 9 malam, di mana jalanan di sekitar tempat penulis tinggal mulai sepi. Sebenarnya malam ini sudah terlalu larut untuk pergi mencari makan, tapi penulis tidak merasa khawatir karena selama lebih dari setahun penulis tinggal di area ini penulis tidak pernah mengalami hal buruk yang dapat mengancam keselamatan penulis.


Perjalanan antara rumah makan dan tempat tinggal penulis merupakan rute yang sangat sederhana, apalagi lokasi keduanya hanya dipisahkan oleh jarak sekitar 300 meter. Namun, penulis tetap memilih untuk berjalan kaki melalui jalan raya sebagai bentuk kewaspadaan pribadi yang muncul secara intuitif. Rute jalan kaki ini adalah rute yang sudah puluhan kali penulis lewati, tidak jarang pula penulis melewatinya sendirian pada waktu yang sama larutnya atau justru lebih larut dari perjalanan penulis malam ini.


Saat penulis hampir sampai, dimana penulis hanya perlu menyeberangi jalan dan sebuah taman untuk berhasil mencapai tempat tinggal penulis dengan selamat, penulis melihat seorang pengendara motor melaju ke arah penulis. Penulis merasakan adanya kejanggalan, karena motor tersebut melaju melawan arus jalan (jalan tersebut adalah jalan satu arah), namun penulis abaikan karena ironisnya hal ini merupakan hal yang sering terjadi di Jakarta.

Semakin anehnya, pengendara motor tersebut kemudian tiba-tiba berhenti sekitar 3-4 meter dari penulis, tidak jadi melintas. Penulis mengira ia berhenti karena ingin menunggu penulis menyeberang, namun ia memandangi penulis dengan tatapan yang memberikan perasaan tidak nyaman selama beberapa detik. Tidak menghiraukan hal tersebut, penulis yang tadinya ingin menyeberangi jalan lalu mengurungkan niat, bermaksud untuk mempersilakan pengendara motor tersebut lewat terlebih dahulu sambil melangkah mundur.

Selang beberapa saat setelah penulis mundur dan mengalihkan pandangan dari pengendara tersebut, penulis mendengar suara mesin motor melesat dengan kencang ke arah penulis. Semuanya terjadi begitu cepat ketika pengendara motor itu dengan beringas melayangkan tangannya ke arah payudara penulis dan menjamahnya dengan paksa. Belum sempat penulis bereaksi, pengendara motor tersebut sudah hilang dari pandangan, melaju dengan cepat dalam kepengecutannya.

Penulis masih berdiri diam dan syok tidak berkutik menyadari apa yang baru saja penulis alami. Sebuah pengalaman sangat-sangat tidak menyenangkan dan tidak terlupakan: pelecehan seksual.

Friday, February 24, 2017

Bukan Mustahil Menembus 8 Universitas UK Untuk S2, Asalkan Motivation Lettermu Memenuhi Hal ini

Catatan penting:


Ulasan ini ditulis berdasarkan pengalaman dari dua orang yang berbeda di tahun yang berbeda pula, namun sama-sama melamar di kampus-kampus ternama Britania Raya. Meskipun kami melalui proses dan tantangan yang berbeda, dari pengalaman kami, kami sama-sama ingin menekankan satu elemen krusial dalam proses mendaftar universitas luar negeri, yakni: motivation letter.


Tulisan ini tidak dibuat untuk 'mendikte' kamu tentang apa yang idealnya harus kamu lakukan, melainkan untuk memberikan gambaran dan masukan serta referensi yang dapat kamu pelajari dari sepetik pengalaman ini. Agar nantinya kamu bisa membekali dirimu dengan 'senjata' berupa motivation letter yang telah diasah dengan penuh kecermatan, sehingga siap digunakan untuk 'bertempur' di medan bernama 'University.

Sepenting apa sih motivation letter?

Bagi yang memiliki rencana untuk berkuliah di luar negeri, biasanya ada serangkaian persyaratan yang harus dipenuhi agar aplikasi pendaftaran dapat dipertimbangkan. Tidak hanya persyaratan yang bersifat kuantitatif seperti transkrip nilai dan IPK, mayoritas universitas di luar negeri juga mewajibkan calon mahasiswa untuk menulis motivation letter atau disebut juga personal statement.

Motivation letter adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan diterima atau tidaknya kamu di sebuah universitas. Mengapa demikian? Ibarat 'juru bicara', motivation letter berfungsi sebagai penyampai motivasimu mendaftar ke universitas tujuan. Melalui motivation letter, pihak universitas dapat mengenalmu secara pribadi. Hal ini lah yang menjadi bahan pertimbangan penting dari seorang kandidat magister.

Sebagai introduksi, saya mendaftar kuliah S2 di empat Universitas di UK: University of Manchester, University of Leeds, University of Edinburgh, dan University of Warwick pada akhir tahun 2015. Empat universitas ini saya pilih karena unggul pada bidang bisnis dan manajemen, sesuai dengan bidang studi yang ingin saya tekuni. Sedangkan rekan saya mengirim aplikasi ke lima kampus di akhir tahun 2014: University of Birmingham, University of Bristol, University of Sheffield, University of Sussex, dan University of Manchester. Kelimanya ia pilih karena semua kampus tersebut memiliki pusat studi yang cukup progresif di bidang pembangunan internasional, selaras dengan disiplin ilmu yang ia minati.

Secara umum, tujuh dari delapan universitas di atas masuk dalam daftar 50 Universitas terbaik di dunia versi QS World University Ranking 2015/2016. Suatu kegembiraan bagi kami saat mengetahui bahwa kami mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari semua universitas tersebut.

Apa saja yang hal yang harus ditonjolkan dalam Motivation Letter?


Berkaca pada pengalaman mendaftar di delapan universitas tersebut, kami pun menganalisis faktor-faktor pada motivation letter kami yang membuat kami diterima. Dari analisis tersebut, kami berkesimpulan bahwa motivation letter yang memenuhi kriteria di bawah ini lah yang menjadikan kami kandidat yang berhasil menembus seleksi:
  1. Alasan memilih universitas


Terdapat dua macam alasan yang wajib dikemukakan dalam sebuah motivation letter. Pertama, jelaskan tentang aspek akademis yang mendorongmu untuk memilih suatu universitas. Contohnya adalah keunggulan riset, peringkat universitas atau program studi, fasilitas, dan teknologi tertentu yang akan mendukung kegiatan belajarmu.

Selain itu, kamu juga bisa memaparkan mata kuliah yang ingin kamu ambil untuk mendukung tujuan studimu. Maka, pastikan telah melakukan riset secara mendalam terhadap universitas yang kamu pilih.

Kedua, untuk mendukung alasan akademis yang kamu utarakan, pertimbangan non akademis seperti suasana kota, biaya hidup, organisasi Persatuan Pelajar Indonesia, dan keberagaman komunitas-komunitas etnis maupun budaya juga dapat ditambahkan supaya Universitas semakin yakin dengan keinginanmu untuk kuliah di sana.

Dengan kata lain, anggaplah kamu sedang menyanjung universitas, namun tidak secara buta karena didasari oleh data. Jadi, bukan bermaksud untuk ‘menjilat’ universitas demi sebuah kursi, melainkan menunjukkan bahwa kita telah memahami profil universitas tujuan dengan baik.
  1. Latar belakang studi, pengalaman, dan minat


Hal selanjutnya yang penting untuk disampaikan dalam motivation letter adalah siapa dirimu dan dimana kamu telah berkiprah. Sebagai contoh, pada motivation letter saya menceritakan bagaimana perjalanan kuliah S1 saya pada bidang Teknik Informatika membawa saya kepada eksplorasi dunia pemasaran digital setelah lulus. Latar belakang ini yang membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk memperdalam ilmu di bidang pemasaran dengan mengambil studi magister.

Di dalam motivation letter sebaiknya terdapat benang merah antara studi, pengalaman, dan minat yang pada akhirnya mendukung alasanmu untuk melanjutkan studi ke tingkat S2.

Pada bagian inilah kamu juga dapat secara bebas mengelaborasikan berbagai kebolehanmu lewat pengalaman dan prestasi yang kamu miliki baik saat kuliah (lewat kegiatan belajar dan organisasi kemahasiswaan) maupun pengalaman kerja bagi yang sudah bekerja. Menggunakan cara ini, kamu dapat meyakinkan universitas akan bahwa kamu mampu belajar mengikuti standar kurikulum universitas di UK.

Catatan: Beberapa program studi mewajibkan kandidat magister untuk memiliki latar belakang S1 yang linier dengan program studi S2 pilihan. Jadi, pastikan kamu telah membaca dengan teliti program studi yang ingin kamu ambil agar memenuhi persyaratan akademis sebelum menulis motivation letter.

3. Relevansi studi dengan rencana karir setelah lulus

Sumber: Pexels

Universitas mana pun tentunya ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas dan punya kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, motivation letter sebaiknya dapat menjelaskan dengan baik bagaimana studi magister yang kamu ambil dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap rencana karirmu setelah lulus.

Rekan saya misalnya, mengambil studi pembangunan internasional karena memiliki aspirasi untuk menjadi pegawai publik yang mampu menganalisis dan menawarkan cara pandang baru dalam narasi pembangunan nasional. Di sisi lainnya, saya memutuskan untuk belajar pemasaran karena ingin mengembangkan industri digital dan kreatif yang berkontribusi dalam pemajuan ekonomi berbasis digital melalui ilmu yang saya pelajari.

Mengambil magister di luar negeri tentunya merupakan keputusan yang tidak diambil sembarangan. Melalui poin ini, kamu dapat menunjukkan keseriusanmu untuk belajar melalui rencana jangka panjang yang kamu paparkan.

Sebelum mengirim motivation letter, pastikan kamu:

  1. Tidak menulis hanya satu motivation letter untuk semua universitas yang kamu lamar.

Artinya, kamu harus memberikan usaha lebih untuk melakukan riset terhadap tiap universitas. Kawan saya membuat lima motivation letter yang berbeda dimana isinya disesuaikan dengan kriteria di atas dan profil masing-masing universitas yang tentunya berbeda. Meski agak merepotkan, justru hal ini membantu kita memetakan alternatif universitas mana saja yang menjadi tempat kita belajar nanti.
  1. Meninjau ulang tulisan (proofreading)

Proofreading adalah kegiatan yang nantinya akan sangat akrab denganmu di bangku perkuliahan S2. Jangan sungkan meminta bantuan dari teman atau kerabat untuk membaca kembali motivation letter yang sudah kamu tulis. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa motivation lettermu dapat dipahami maksudnya oleh orang lain -- selain diri kamu sendiri.
  1. Tidak menjiplak karya orang lain

Salah satu kesalahan terbesar dalam pembuatan motivation letter adalah menjiplak motivation letter orang lain; mengambil karya orang lain sebagai referensi adalah hal yang positif, tetapi meniru mentah-mentah tulisan orang lain sama saja dengan meremehkan kemampuanmu sendiri. Padahal, dengan menjadi orisinil, universitas dapat menilai bahwa kamu adalah kandidat yang berbeda dan pantas untuk diperhitungkan.

Selain itu, dengan terbiasa tidak melakukan plagiarisme, kamu akan membentuk suatu kebiasaan baik yang membantumu untuk ‘selamat’ dalam melakukan kegiatan akademik di kampus seperti penulisan esai, makalah, jurnal, presentasi, laporan, dan karya ilmiah lainnya. Plagiarisme sekecil apapun tidak akan ditolerir dalam dunia akademis, terutama di UK. Jadi, jangan giat melakukan plagiat, ya.
  1. Memenuhi poin-poin yang diminta oleh universitas

Tidak jarang, selain hal-hal penting yang sudah dibahas di atas, universitas tertentu memberikan daftar pertanyaan tambahan yang harus dijawab oleh kandidat mahasiswa. Biasanya ini bertujuan untuk mengetahui lebih rinci pengalaman yang kamu miliki. Selalu periksa kembali jenis motivation letter yang disyaratkan oleh universitas tujuanmu.

Demikianlah hal-hal yang menurut kami bersifat esensial keberadaannya dalam pembuatan motivation letter. Proses yang kami lewati dalam membuat motivation letter memang membutuhkan niat dan usaha yang tidak sedikit, tetapi proses tersebut lah yang justru membuat kami semakin sadar bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan S2 di luar negeri tidak boleh disia-siakan, apalagi dianggap sepele.

Semoga tulisan kami menjadi sumbangan motivasi bagi para pembelajar di Indonesia yang sedang bersemangat mengejar studi di luar negeri :)

---
Artikel ini juga telah dipublikasikan di IDN Times

Sedikit pesan dari bapak Presiden RI :)



Sunday, September 11, 2016

Beasiswa Pemerintah Buat si Cina: Patahkan Stigma Buruk Pemerintah Indonesia


Prolog
Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, saya mendapatkan keputusan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan bahwa saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia. Apakah saya merasa senang mendengar berita tersebut? Pasti. Akan tetapi, terdapat pelajaran yang lebih berharga di balik nilai sebuah beasiswa yang berarti layaknya hasil sebuah kerja keras. Pelajaran tersebut ingin saya bagikan melalui tulisan ini.
---

Pilihan, Usaha, dan Hasil

Semua dimulai ketika saya telah bekerja hampir dua tahun semenjak lulus kuliah. Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan perenungan, saya memutuskan untuk mengejar keinginan saya untuk kuliah S2 dan berburu beasiswa untuk dapat membiayainya. Oleh karena itu, saya lalu melakukan berbagai riset (mencari informasi secara online dan dengan bertanya kepada teman-teman), mempersiapkan diri, dan akhirnya memilih untuk mendaftar ke program Beasiswa Pendidikan Indonesia, salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI.
Begitu besar harapan saya agar mendapatkan beasiswa ini, apalagi sebelumnya saya telah menghabiskan waktu satu tahun untuk berdebat dengan diri sendiri, berusaha mengalahkan ego dan rasa takut akan kegagalan – bahkan sebelum saya mencoba. Maka, saya begitu mantap mendaftarkan diri saya ke batch pertama seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016.

Ternyata hasil seleksi tersebut jauh dari apa yang saya harapkan. Ya, saya tidak lolos seleksi. Saya masih ingat dengan begitu jelas bagaimana saya mempersiapkan diri untuk seleksi substantif yang merupakan seleksi akhir di batch pertama tersebut. Seleksi substantif LPDP terdiri dari tiga jenis seleksi: seleksi penulisan esai di tempat (on the spot essay), Leaderless Group Discussion, dan wawancara. Pengalaman tersebut merupakan yang pertama bagi saya; saya belum pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa apapun sebelumnya. Jadi, proses tersebut begitu menegangkan dan membuat saya gugup.

Sayangnya, kegugupan tersebut lah yang membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri saat menghadapi seleksi. Saat mengerjakan esai dan mengikuti Leaderless Group Discussion performa saya jauh dari maksimal. Ditambah lagi, pada saat wawancara, kegugupan saya membuat saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tim seleksi dengan tenang. Alhasil, saya tidak dapat menyampaikan latar belakang, tujuan, dan rencana studi saya dengan baik. Firasat saya yang kurang baik terhadap seleksi itu pun terbukti benar saat hasil seleksi diumumkan melalui surat elektronik. Tulisan TIDAK LULUS berwarna merah terang dan ukuran yang begitu besar memberikan perasaan yang terlampau mirip dengan mendapatkan nilai jeblok saat ujian sekolah, tetapi sebenarnya lebih serupa lagi dengan perasaan saat mengalami patah hati.

Ditambah lagi, perasaan sedih karena ketidaklolosan saya tidak hanya disebabkan oleh perasaan gagal, tetapi juga karena saya merasa mengecewakan orang-orang yang telah percaya dan mendukung saya. Ketika orang tua saya bertanya mengenai hasil seleksi tersebut dengan penuh harapan, dengan berat hati saya menjawab bahwa saya belum lolos seleksi di tahap ini.

Tidak Familiar dengan Beasiswa Pemerintah

Sebagai informasi, keluarga saya adalah keluarga etnis Tionghoa yang tidak begitu akrab dengan beasiswa pemerintah, begitu pula dengan kerabat-kerabat saya. Keinginan saya untuk bersekolah S2 dengan beasiswa pemerintah sempat memunculkan berbagai keresahan. Sempat pula orang tua saya, yang adalah pegawai swasta dengan latar belakang pendidikan sarjana S1, beranggapan bahwa lebih baik saya mengejar tangga karir dengan bekerja di perusahaan yang besar dan stabil daripada kembali bersekolah. Namun, setelah diskusi dan penjelasan yang panjang, pada akhirnya kedua orang tua saya begitu mendukung keinginan saya ini. Kemudian, beritanya pun tersebar kepada para kerabat saya di keluarga besar. Saya berusaha memaklumi, karena keluarga besar saya memiliki kultur keluarga yang senang berbagi informasi ‘update’ mengenai keluarga masing-masing, apalagi yang terkait dengan perkembangan anak-anak. Walaupun bukan harapan saya agar informasi ini menyebar viral, tentunya dukungan-dukungan yang ada tetap saya jadikan dorongan dan sumber motivasi.
"Kalau kamu dapat beasiswanya, kamu nggak dikontrak untuk bekerja di instansi pemerintah kan?" dengan tatapan bergidik ngeri. Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang lain saat tahu bahwa saya mendaftar ke program beasiswa yang dikelola pemerintah.

Sayangnya, karena begitu banyak kerabat yang mengetahui mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti ini, tentu mereka juga akan menanyakan hasilnya. Saya langsung memprediksi bahwa mama saya akan dihujani pertanyaan mengenai hasil seleksi yang telah saya lewati. “Gimana, si Janet dapat nggak beasiswanya?”


Gagal: Di antara Meritokrasi dan Diskriminasi

Banyak yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tetapi saya tidak dapat memungkiri betapa harapan saya hancur mengetahui saya tidak lolos seleksi. Perasaan ditolak tidak akan pernah menjadi perasaan yang menyenangkan, dan kadang seolah-olah hidup enggan untuk memberikan hasil yang setimpal dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan. Maka, menghadapi kegagalan tersebut, saya hanya berharap orang-orang yang mengetahuinya hanya akan memberikan saya dukungan yang lebih besar dan teriakan semangat yang lebih keras.

Mama saya yang mengerti hal tersebut, tidak pernah lupa memberitahu saya reaksi kerabat-kerabat saya yang satu persatu mengetahui hasil seleksi tersebut dari sang mama. Ada yang kasihan, ada yang terus menyemangati. Saya merekam satu persatu pesan-pesannya, merasa berterima kasih. Sampai suatu hari, di antara sejumlah reaksi yang saya terima, datang sebuah reaksi yang begitu menampar saya.
"Diskriminasi banget sih!" ujar salah satu kerabat saya begitu mengetahui saya tidak lolos.

"Diskriminasi? Diskriminasi apa?" pikir saya, mengernyitkan dahi dengan intensnya. 
Duka akan kegagalan saya seketika memudar. Saat itu, yang kemudian justru membuat saya terganggu bukan lagi rasa bersalah saya karena telah memupuskan harapan orang lain, melainkan reaksi berupa prasangka buruk yang berusaha memberikan justifikasi bahwa ketidaklolosan ini adalah hasil tindakan diskriminatif. Ya, saya dianggap tidak lolos karena saya berasal dari etnis Tionghoa yang merupakan kaum minoritas di Indonesia.

Saya yang awalnya merasa begitu kecewa karena tidak lolos seleksi, menjadi jauh lebih kecewa karena kegagalan saya dianggap lumrah. Ketika reaksi yang saya ekspektasikan adalah "Wah, nggak apa-apa. Coba lagi ya! Lebih semangat mempersiapkan seleksi selanjutnya ya. Kamu pasti bisa!" yang saya dapatkan adalah "Wah, wajar itu. Pantas saja kamu nggak mendapatkan beasiswa, namanya juga beasiswa pemerintah, ya pasti yang diberikan kebanyakan anak-anak pribumi saja."
Rasa geram dan sedih pun bercampur menjadi satu. Pandangan dan prasangka mereka terhadap negeri ini begitu buruknya, sampai-sampai sebuah lembaga negara yang profesional pun diragukan profesionalitasnya.

Menurut saya, pemikiran seperti ini keliru.

Subjektifitas pasti ada dalam seleksi manapun, tidak hanya satu beasiswa saja, tetapi beasiswa manapun. Ini juga berlaku di dalam seleksi masuk kerja. Mengapa? Karena proses seleksi tidak cukup hanya melihat prestasi akademis maupun kemampuan yang dapat diukur secara kuantitatif. Seleksi wawancara yang memiliki bobot terbesar pun menjadi sesuatu yang lumrah, karena hanya lewat seleksi wawancara lah tim seleksi dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui nilai-nilai  maupun tujuan yang dipegang oleh peserta seleksi. 

Hal-hal tersebut menjadi tolak ukur terbesar keberhasilan dalam suatu seleksi karena seleksi adalah sebuah proses perekrutan calon anggota ke dalam suatu kelompok, badan, atau organisasi yang membutuhkan keseragaman visi dan misi pesertanya.
“Saya berpikir bahwa saya tidak lolos karena belum dapat memenuhi kriteria, tapi tidak pernah sedikitpun saya menarik kesimpulan bahwa kriteria tersebut adalah menjadi seorang pribumi.”

Saat itu, ingin rasanya saya membantah dengan berkata: "Bukan. Salah. Saya tidak lolos seleksi bukan karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa seperti yang kalian pikirkan, melainkan karena saya tidak mempersiapkan diri dengan baik.", tapi tentu akan sia-sia kalau tidak dibuktikan melalui tindakan. Maka, saat pendaftaran tahap kedua seleksi LPDP di tahun 2016 dibuka, saya berusaha mempersiapkan diri lebih baik dan kembali mendaftar. Saya tidak lagi hanya bersemangat lebih besar untuk meraih kesempatan belajar dan membangun kualitas diri yang kelak dapat menyumbangkan kontribusi bagi Indonesia, tetapi juga untuk membuktikan bahwa prasangka tersebut salah besar.

Tepat pada tanggal 10 Juni 2016, saya berhasil membuktikannya. Saya lolos seleksi substantif yang merupakan seleksi terakhir program Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI. Saya lolos.
Dan terakhir kali saya cek, saya masih keturunan Tionghoa tuh. *badumtsss*
Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah air ini. Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas. Harapan saya, stigma negatif pemerintah Indonesia akan semakin memudar, seiring dengan bertambahnya instansi pemerintahan yang menjunjung tinggi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.
Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas.
 ---

Epilog

"Ci! Ci! Cina! Cina!" sekelompok remaja laki-laki dari seberang jalan berteriak-teriak sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk saya dan dua orang teman saya yang kebetulan juga keturunan Tionghoa, di perjalanan menuju sekolah. Bagi mereka hal itu lucu -- bagi saya, itu sangat menakutkan. 

Sebenarnya saya memahami bahwa mungkin setiap keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki setidaknya satu pengalaman yang buruk dengan adanya diskriminasi terhadap etnis, budaya, maupun agama. Saya pun tidak mudah mengabaikan panggilan-panggilan iseng yang dianggap harmless tapi menurut saya mengintimidasi. Maksud saya, tidak mungkin mereka paham bahwa hal kecil seperti itu membuat saya ngilu mengingat cerita kerusuhan di tahun 1998, dimana banyak wanita keturunan Tionghoa menjadi menjadi korban pemerkosaan.

Jadi, saya tidak akan memaksa para pembaca, khususnya yang pernah mengalami diskriminasi ataupun bullying dalam bentuk apapun di masa lampau, untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Yang terjadi memang sudah terjadi. Tetapi negeri ini hanya akan semakin maju apabila kita berpikiran terbuka dan pelan-pelan meninggalkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Jika seseorang melakukan hal yang tidak adil kepada orang lain, itu kesalahannya, bukan kesalahan sukunya, etnisnya, agamanya, atau apapun golongan lainnya yang cenderung digeneralisasikan.

Bayangkan, tanpa ribuan penilaian keliru yang kita buat, berapa juta musuh yang dapat seketika berubah menjadi sahabat?

"Our privilege to make personal judgment based on our experiences should never stop us from being open-minded and kind to everyone.” – Janet Valentina

Until next post,

Janet.

Tuesday, May 10, 2016

30 Hari Tanpa Social Media: Waras atau Gila?

Media Sosial: Lingkaran tiada akhir


Buka Facebook, scrolling di News Feed untuk mengecek sudah ada berita terbaru atau artikel terbaru apa lagi yang sedang viral, lucu, atau seru untuk di-share. Bosan, pindah ke aplikasi Path, biasanya ada meme terbaru yang menggoda hati untuk di repath, mulai dari yang berbau politik sampai yang berbau praktik bullying terhadap orang-orang jomblo dan orang-orang yang tinggal di dekat matahari (kalau anda punya Path pasti ngerti maksud saya). Setelah Path sudah habis dibaca-baca, pindah ke Twitter untuk melihat ada quote-quote apa yang bisa diretweet. Masih bosan? Pindah lagi ke Instagram untuk sekedar nge-like foto-foto makanan yang cantik dan rata-rata harganya setara uang kos sebulan, sambil nge-post foto-foto yang bisa kita kasih hashtag #latepost atau #throwback atau #foodporn.

Hidup yang bergantung pada Timeline

Sepertinya hidup orang-orang di zaman sekarang ini tidak pernah lepas dari social media. Sudah kronis ketergantungannya. Hal ini membawa saya kembali pada sebuah fenomena mengejutkan yang saya temukan di tahun 2014 silam. Saat itu, saya pergi bersama beberapa rekan kerja untuk melakukan consumer visit di pinggiran kota yang bertujuan mengetahui kebiasaan ibu rumah tangga dalam menggunakan teknologi digital dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sana, saya berkesempatan mewawancarai seorang ibu rumah tangga, sebut saja Ibu Ani. Ibu Ani mengurus rumah tangga dan dua orang anak, sedangkan suaminya mencari nafkah sebagai satpam gedung dan kuli bangunan di sela-sela waktunya. Rumah yang mereka tinggali bisa dibilang sangat kecil, cenderung kotor dan kurang terawat. Alat-alat elektronik penting yang dapat membantu kegiatan rumah tangga Ibu Ani sehari-hari, seperti televisi dan mesin cuci, sudah rusak dan belum juga direparasi. Alat transportasi yang digunakan keluarga mereka sehari-hari, yaitu sebuah sepeda motor, masih belum lunas cicilan.
Lalu, tiba-tiba ibu Ani membuat saya merasa seakan tersambar petir saat dia mengutarakan ke saya bahwa dia paling tidak bisa hidup tanpa telepon genggamnya, sebuah Blackberry Gemini. Saya tanya, mengapa? Karena melalui BB Gemini ini, ia dapat mengakses Facebook untuk berkomunikasi dengan teman-teman arisan atau pengajian sekampung. Saat butuh hiburan, ibu ini membaca guyonan-guyonan ala Betawi yang ada di halaman Facebook yang ia sukai. Tidak heran saat rekan saya memberikan pertanyaan follow-up, "Hadiah apa yang ibu harapkan dari kemasan cairan pencuci piring?" Ibu Ani tidak menjawab mobil, perhiasan, atau rumah. Terpatri di ingatan, ekspresi wajah Ibu Ani saat menjawab dengan malu-malu "Pulsa, mbak. Supaya saya bisa beli paket data."

Melangkah keluar dari zona nyaman

Fenomena seperti ini yang lalu membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri, kemudian merasa tertantang untuk untuk menguji diri saya sendiri.

Makanya, saat sahabat saya tiba-tiba bilang "Bisa nggak, cuma menggunakan 2 jenis social media dalam waktu sebulan?" , dalam hati saya menjawab, "Kenapa tidak sekalian saja hidup tanpa social media  dalam waktu sebulan?" I  mean, why not? sepertinya akan jadi pengalaman yang seru. Serta merta saya menjawab, "Ok, I'm in!" dan petualangan baru pun dimulai.

Prosesnya..

Memulai komitmen iseng tapi menantang yang saya sudah tentukan ini, akhirnya saya menghapus/uninstall seluruh aplikasi social media yang saya miliki. Iya, semuanya. Facebook, Path, Twitter, dan Instagram, Tapi ini bukan berarti saya boleh mengakses social media tersebut menggunakan komputer/desktop.

Let me tell you, seminggu pertama hidup saya tanpa social media bisa dikatakan cukup menarik. Kedua jempol yang punya muscle memory sangat hebat ini biasanya akan secara otomatis meng-unlock smartphone saya dan membuka folder "Social Media" dan menemukan bahwa... tidak ada aplikasi social media. Kemudian suatu pagi yang cerah teman kantor tiba-tiba berkata "Eh net.. Tau nggak video soal bla bla yang lagi heboh banget itu di Facebook?" dan saya cuma bisa bengong karena tidak tahu menahu soal itu. Tidak jarang saya suka merasa gelisah tidak jelas, pori-pori kulit mengeluarkan butir-butir keringat sebesar biji jagung. Belum lagi, tiba-tiba saya terserang bakteri Typhus dan harus menghabiskan waktu sekitar 10 hari di rumah untuk melakukan istirahat penuh. Sempurna sudah penderitaanku, pikir saya.

Namun dengan semangat yang membara dan motivasi yang ditinggi-tinggikan, saya mencari cara untuk menggantikan "hiburan-hiburan" sehari-hari yang sekarang statusnya di-banned ini. Masa sih, hidup kebahagiaan saya hanya bergantung pada social media? 

Jadi, setelah riset mendalam perenungan sejenak, saya menemukan hal-hal yang dapat saya lakukan:

1. Memperkaya ilmu melalui video di YouTube


No, I was not cheating. YouTube bukan social media (untungnya bukan) jadi saya masih bisa menikmati nonton video-video musik, talkshow, movie trailers, dan sebagainya. Sebagian waktu yang saya habiskan saat menonton Youtube juga memberikan saya banyak pengetahuan, seperti tutorial memasak, Do It Yourself, dan masih banyak lagi. Tidak lagi mengherankan kalau saya bisa menemukan berbagai macam konten video yang berguna di sini, karena mesin pencarian milik Youtube adalah yang terbesar kedua setelah mesin pencarian Google.


2. Download apps portal berita (Kompas, DetikCom, Flipboard) dan mulai membaca


Teman-teman saya mengira saya kesambet saat memergoki saya membaca sebuah artikel berita melalui salah satu aplikasi pembaca berita yang saya install sebagai pengganti aplikasi social media, Flipboard. Wajar saja mereka hampir kejang-kejang dengan mulut berbusa, wong biasanya mata saya terpaku berjam-jam pada layar hp untuk melihat dan mengomentari kegiatan orang lain di lini masa. Tapi kebiasaan baru ini lebih-lebih merupakan eye opener bagi saya. Saya menyadari, topik-topik tertentu yang sedang hot di social media agak, atau bahkan sangat patut dipertanyakan kebenarannya. Artikel dengan sumbernya yang seringkali tidak terpercaya terkadang justru lebih mudah tersebar secara viral karena mengandung unsur-unsur yang fantastis, mengejutkan, sulit dipercaya, dan sangat menarik untuk dibagikan untuk menjadi bahan obrolan bersama teman-teman. Mulut pun rasanya gatal ingin berkata, "Eh lo tau nggak siiih...?". And, you have that share button on your fingertips.
Social media meningkatkan keingintahuan besar akan hal-hal baru dan terkini, namun sayangnya juga membudayakan kebiasaan membaca tidak baik yang diadaptasi sebagian besar anak muda saat ini : TL;DR, alias Too long, did not read. 
Menurut saya sih, budaya TL;DR ini sudah bertransformasi artinya menjadi Too Lazy, Did not read, karena ketidakakuratan informasi yang diserap bukan hanya disebabkan malas membaca artikel terlalu panjang, tapi juga malas melakukan verifikasi kebenaran sumber berita atau konten artikel yang dibaca.

Berkat membaca artikel-artikel berita alih-alih menyimak timeline di social media, ternyata literasi media saya jadi sedikit banyak lebih terasah. Amin.


3. Fokus pada diri sendiri


Jangan salah, terlepas dari dunia social media awalnya memang menyiksa jiwa dan raga, mungkin ibarat berusaha lepas dari kecanduan obat-obatan terlarang. Lho, saya nggak bercanda, belakangan ini ketakutan yang disebut Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal, baik itu ketinggalan berita terbaru sampai takut kehilangan kesempatan mengaktualisasikan diri, melanda sebagian besar generasi muda di Indonesia dan dunia internasional. Saya yakin sebagian besar pembaca pernah terpengaruh publikasi teman di sosial media, misalnya membandingkan keadaan diri, pencapaian pribadi, atau jadi terlalu lama merenung (kadang cenderung meratapi) dan bertanya "Apakah saya cukup baik? Sepertinya teman-teman saya lebih baik, lebih bahagia.." dan lebih sebagainya.
Mengambil istirahat dari pemakaian social media menjadi langkah baru yang saya ambil untuk melakukan apa yang penting namun saya sering lupakan, yaitu menjadi diri saya sendiri dan mensyukuri (mensyukuri ya, bukan nyukurin) apa yang saya miliki. 
Teman punya mobil baru? Liburan ke luar negeri setiap minggu? Terus kenapa? Saya nggak perlu secara konstan berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa saya bahagia. Feeling content with myself is enough.

4. Spending time with those who matter


Berikut ini pertanyaan refleksi, yang bisa anda jawab dalam hati: seberapa sering anda merespon percakapan dengan teman, keluarga, dan orang-orang tersayang anda tanpa melepaskan pandangan dari layar smartphone? Andai hal ini adalah sebuah perbuatan kriminal yang melanggar hukum, mungkin sebenarnya saya sendiri sudah keluar masuk penjara, bahkan dihukum seumur hidup. Mungkin benar kata orang bahwa social media itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ironisnya, hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari.


Selama saya 'puasa' social media (dan waktu itu sakit typhus), saya menjadi lebih observant terhadap hal-hal sekitar dan lebih berusaha menjadi pendengar yang lebih baik terhadap orang-orang terdekat saya, karena saya nggak sibuk sendiri mengurusi 'kepoan' di social media. Singkat cerita, tali silaturahmi jadi semakin terjaga karena waktu yang kita habiskan dengan orang-orang yang kita sayangi menjadi lebih berkualitas. See how changing one small thing could create a big impact. Even better, a positive one.

Setelah hari ke 30..

Saya merasa terlahir kembali. Nggak, deng. 

Setelah melewati hari demi hari tanpa social media, saya mencapai suatu konklusi. Social media is social media, therefore it should not be less or more than that. 
Menggunakan media sosial memang asyik dan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal (selayaknya fungsi sebuah bentuk teknologi) mulai dari komunikasi, mengabadikan momen-momen berharga dalam hidup, sampai mengakses informasi. Namun, social media tidak seharusnya mendikte bagaimana kita menjalani hidup, apalagi kalau sampai membuat kita merasa kurang berharga akibat perbandingan-perbandingan tidak berdasar. Sesuai dengan namanya, Social media adalah sebuah media. Jika social media adalah ribuan halaman kosong di mana semua orang dapat menuliskan ceritanya masing-masing, anda salah satu penulisnya. Have fun writing your own life.

Friday, September 26, 2014

Bed Rest.


The title says it all. 

"Hah?Bed rest?" 

Iya masbro, mbaksis. Bed rest. Ceritanya saya sedang menjalani hukuman (yang sebenarnya lebih terasa seperti liburan --psst.. jangan bilang-bilang bos saya ya) yang bernama bed rest ini.

Be careful what you wish for. Kenapa? Karena wish yang kita punya bisa saja dikabulkan, tapi dengan bentuk yang 'sedikit' berbeda dengan  apa yang kita bayangkan. Contohnya apa yang baru saja saya katakan di awal minggu ini. 

"Ah, udah lama ya nggak tidur siang, goler-goler di kasur kayak waktu jaman kuliah dan SMA." 
"Kalau bisa liburan seminggu enak kali ya.."
Kalimat-kalimat yang keluar begitu saja dari mulut saya saat ngantuk sehabis makan siang di kantor, di hari Selasa.

Mulutmu, harimaumu, dek Janet. Ketika Tuhan berkata (dengan nada sedikit nge-rap..) "Kamu akan gabut di kantor lalu sepulang kantor kamu akan mendapatkan wahyu berupa sifat rajin yang sudah lama tidak kamu miliki lalu kamu akan bersih-bersih dan nyapu ngepel seluruh kamar kos yang bentuknya sudah hina dan tidak terurus itu kemudian kamu akan bersin-bersin yang akan berubah menjadi flu yang kemudian berubah menjadi demam dan sakit tenggorokan yang akan kamu derita semalaman!", WALLA! (Maksudnya voila) terjadilah yang Ia kehendaki padaku.

Selasa malam, saya pun demam dan tenggorokan saya atit ali. Sakit sekali.
Rabu pagi, dengan kepala yang masih berat dan tubuh yang terasa melayang-layang, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah sakit di Jakarta, minta izin nggak masuk kantor. Nggak tanggung-tanggung, saya datang ke dokter Internis (Spesialis Penyakit Dalam). Kenapa? Karena itu dokter langganan om dan tante saya yang katanya bagus. Percayalah saya tadinya mau ke dokter umum saja karena merasa agak terlalu lebay kalau baru demam sehari langsung datang ke internis. Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya, saya pikir.

Mengambil nomor antrian yang ternyata nomor satu (Hore!) karena datang kepagian, ternyata merupakan hak prerogatif dokter untuk datang kapan saja. Saya datang jam 9 pagi, dokternya datang hampir jam 11. Mati gaya, tapi untung nggak mati beneran.
Melihat sekeliling saya yang mulai ramai (bapak-bapak paruh baya, ibu-ibu menggunakan kursi roda, dan sebagainya) entah kenapa saya merasakan tatapan yang agak sinis dari sekeliling saya. Mungkin nurani mereka berkata "Ini anak bau kencur, kayanya sehat-sehat aja ngapain ngantri spesialis penyakit dalam segala?" dalam hati saya malah sedikit berdoa "semoga nggak sia-sia saya datang ke internis, kalau nggak saya cuma ngelama-lamain antrian aja sama bakar duit sendiri"

Tidak lama kemudian. akhirnya dokternya datang juga. Setelah lama-lama mendapat tatapan sinis dari sesama pasien yang antri (nggak deng) saya masuk, diperiksa dan diwawancara sebentar oleh dokter yang semoga saja mahatahu akan penyakit apa yang saya derita, dan coba tebak dokternya bilang apa? 

"Kalau baru demam sehari sih belum berarti ya. Coba dicek darahnya terlebih dahulu di lab, nanti setelah hasilnya keluar kembali lagi ke sini." 

Lalu dengan rasa bersalah dan muka memelas, saya berkata "Maaf ya udah buang-buang waktu dokter.."
Nggak lah. Saya mengucapkan terima kasih, melangkah keluar dan melakukan cek darah di lab seperti yang dianjurkan. Apa rasanya diambil darahnya menggunakan jarum suntik? Unpleasant. Tapi ya apa boleh buat, saya harus membuktikan bahwa ada sesuatu yang salah di dalam tubuh saya ini, mempertanggungjawabkan 2 hal yang pertama kali muncul di pikiran saya: Yang pertama, izin nggak masuk kantor. Rasanya agak sia-sia kan kalau nggak masuk kantor untuk pergi ke dokter tapi ternyata nggak sakit apa-apa? Berhubung saya masih anak baru dan belum punya jatah cuti (nah jadi curhat) it's a big no untuk terlalu banyak izin nggak masuk kantor. 
Jadi, kalau sudah izin nggak masuk kantor tapi ternyata nggak sakit apa-apa, bagaimana? Coba dipikirkan sendiri.
Yang kedua adalah tatapan-tatapan judging dari sesama pasien yang mengantri tadi. Nggak mau kan, dianggap cuma 'menuh-menuhin antrian aja'. Memang sih, saya nggak teriak "Hey, saya antrian nomor satu loh! Lalala yeyeye~" sambil joget ngeledek. Basically itu beban moral yang terjadi di pikiran saya saja waktu itu.

Satu bakwan jagung dan satu tahu isi habis dilahap, serta satu jam pun berlalu. Saya kembali ke laboratorium rumah sakit untuk mengambil hasil cek darah yang dinanti-nanti. Saya buka amplopnya, mencoba membaca arti angka-angka yang ada di kertas tersebut. Nggak ngerti.
Menyerah, saya kembali ke dokter penyakit dalam yang mahatahu (disingkat menjadi DPDYM).

Percakapan di jumpa kedua saya dengan DPDYM:
DPDYM: "Ya, ini hasil cek darahnya semua normal ya. Trombositnya agak rendah, tapi leukosit dan hemoglobinnya semua masih normal"
Saya: *angguk-angguk lega sambil mikir 'oh jadi gue ga sakit apa-apa dong ya'*
DPDYM: "Tapi...." *dengan jeda dramatis*
Saya: *tahan napas*
DPDYM: *membuka lembaran kedua hasil cek darah (saya nggak sadar hasilnya terdiri dari dua lembar)* "Tapi dilihat di sini kamu sudah kena Typhus ya.. " *kemudian memberi sedikit penjelasan mengenai Typhus, memberi titah untuk saya agar bed rest selama 3 hari, dan menulis resep obat*

Terdiagnosis lah saya memiliki penyakit Typhus. Dengan rasa bersyukur karena saya tidak perlu diopname (apalagi diinfus), saya melangkah keluar ruang dokter tersebut dengan hati gembira. 

Hari Sabtu ini saya masih harus cek darah yang kedua kalinya, semoga keadaan saya sudah membaik.


Konklusi?

Jadi sekali lagi, be careful what you wish for, dan kalau wish yang anda miliki terkabul namun tidak benar-benar sesuai dengan apa yang anda inginkan, hey, mungkin itu sesuatu yang sebenarnya anda butuhkan.

Seperti saya. Sakit sih, bed rest sih, tapi ya disyukuri saja. Kadang memang harus ada sesuatu yang kita korbankan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. 

Para pembaca, jaga kesehatan ya. Jangan gara-gara tulisan saya ini terbentuk gerakan 'Saya ingin sakit supaya bisa libur'.
Liburan yang menyenangkan ya saat benar-benar waktunya liburan dong.
Semoga next time benar-benar punya kesempatan untuk berlibur ya~ #tetep


Janet