Tuesday, March 14, 2017

Perbuatan Terkutuk Itu Bernama Pelecehan Seksual: Catatan Seorang Korban

Ditulis oleh: Janet Valentina dan Febby Widjayanto

Hari Perempuan Internasional belum lama berselang, tetapi kejahatan dan pelecehan terhadap tubuh perempuan masih terus berulang. Melalui tulisan ini penulis ingin mengungkapkan kekesalan yang sebenarnya telah lama terpendam namun kembali menyeruak karena sebuah kejadian yang baru penulis alami.

Awal mula problema

Cerita ini dimulai saat penulis kembali dari sebuah rumah makan. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 9 malam, di mana jalanan di sekitar tempat penulis tinggal mulai sepi. Sebenarnya malam ini sudah terlalu larut untuk pergi mencari makan, tapi penulis tidak merasa khawatir karena selama lebih dari setahun penulis tinggal di area ini penulis tidak pernah mengalami hal buruk yang dapat mengancam keselamatan penulis.


Perjalanan antara rumah makan dan tempat tinggal penulis merupakan rute yang sangat sederhana, apalagi lokasi keduanya hanya dipisahkan oleh jarak sekitar 300 meter. Namun, penulis tetap memilih untuk berjalan kaki melalui jalan raya sebagai bentuk kewaspadaan pribadi yang muncul secara intuitif. Rute jalan kaki ini adalah rute yang sudah puluhan kali penulis lewati, tidak jarang pula penulis melewatinya sendirian pada waktu yang sama larutnya atau justru lebih larut dari perjalanan penulis malam ini.


Saat penulis hampir sampai, dimana penulis hanya perlu menyeberangi jalan dan sebuah taman untuk berhasil mencapai tempat tinggal penulis dengan selamat, penulis melihat seorang pengendara motor melaju ke arah penulis. Penulis merasakan adanya kejanggalan, karena motor tersebut melaju melawan arus jalan (jalan tersebut adalah jalan satu arah), namun penulis abaikan karena ironisnya hal ini merupakan hal yang sering terjadi di Jakarta.

Semakin anehnya, pengendara motor tersebut kemudian tiba-tiba berhenti sekitar 3-4 meter dari penulis, tidak jadi melintas. Penulis mengira ia berhenti karena ingin menunggu penulis menyeberang, namun ia memandangi penulis dengan tatapan yang memberikan perasaan tidak nyaman selama beberapa detik. Tidak menghiraukan hal tersebut, penulis yang tadinya ingin menyeberangi jalan lalu mengurungkan niat, bermaksud untuk mempersilakan pengendara motor tersebut lewat terlebih dahulu sambil melangkah mundur.

Selang beberapa saat setelah penulis mundur dan mengalihkan pandangan dari pengendara tersebut, penulis mendengar suara mesin motor melesat dengan kencang ke arah penulis. Semuanya terjadi begitu cepat ketika pengendara motor itu dengan beringas melayangkan tangannya ke arah payudara penulis dan menjamahnya dengan paksa. Belum sempat penulis bereaksi, pengendara motor tersebut sudah hilang dari pandangan, melaju dengan cepat dalam kepengecutannya.

Penulis masih berdiri diam dan syok tidak berkutik menyadari apa yang baru saja penulis alami. Sebuah pengalaman sangat-sangat tidak menyenangkan dan tidak terlupakan: pelecehan seksual.
© Janet Valentina
Maira Gall