Tuesday, March 14, 2017

Perbuatan Terkutuk Itu Bernama Pelecehan Seksual: Catatan Seorang Korban

Ditulis oleh: Janet Valentina dan Febby Widjayanto

Hari Perempuan Internasional belum lama berselang, tetapi kejahatan dan pelecehan terhadap tubuh perempuan masih terus berulang. Melalui tulisan ini penulis ingin mengungkapkan kekesalan yang sebenarnya telah lama terpendam namun kembali menyeruak karena sebuah kejadian yang baru penulis alami.

Awal mula problema

Cerita ini dimulai saat penulis kembali dari sebuah rumah makan. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 9 malam, di mana jalanan di sekitar tempat penulis tinggal mulai sepi. Sebenarnya malam ini sudah terlalu larut untuk pergi mencari makan, tapi penulis tidak merasa khawatir karena selama lebih dari setahun penulis tinggal di area ini penulis tidak pernah mengalami hal buruk yang dapat mengancam keselamatan penulis.


Perjalanan antara rumah makan dan tempat tinggal penulis merupakan rute yang sangat sederhana, apalagi lokasi keduanya hanya dipisahkan oleh jarak sekitar 300 meter. Namun, penulis tetap memilih untuk berjalan kaki melalui jalan raya sebagai bentuk kewaspadaan pribadi yang muncul secara intuitif. Rute jalan kaki ini adalah rute yang sudah puluhan kali penulis lewati, tidak jarang pula penulis melewatinya sendirian pada waktu yang sama larutnya atau justru lebih larut dari perjalanan penulis malam ini.


Saat penulis hampir sampai, dimana penulis hanya perlu menyeberangi jalan dan sebuah taman untuk berhasil mencapai tempat tinggal penulis dengan selamat, penulis melihat seorang pengendara motor melaju ke arah penulis. Penulis merasakan adanya kejanggalan, karena motor tersebut melaju melawan arus jalan (jalan tersebut adalah jalan satu arah), namun penulis abaikan karena ironisnya hal ini merupakan hal yang sering terjadi di Jakarta.

Semakin anehnya, pengendara motor tersebut kemudian tiba-tiba berhenti sekitar 3-4 meter dari penulis, tidak jadi melintas. Penulis mengira ia berhenti karena ingin menunggu penulis menyeberang, namun ia memandangi penulis dengan tatapan yang memberikan perasaan tidak nyaman selama beberapa detik. Tidak menghiraukan hal tersebut, penulis yang tadinya ingin menyeberangi jalan lalu mengurungkan niat, bermaksud untuk mempersilakan pengendara motor tersebut lewat terlebih dahulu sambil melangkah mundur.

Selang beberapa saat setelah penulis mundur dan mengalihkan pandangan dari pengendara tersebut, penulis mendengar suara mesin motor melesat dengan kencang ke arah penulis. Semuanya terjadi begitu cepat ketika pengendara motor itu dengan beringas melayangkan tangannya ke arah payudara penulis dan menjamahnya dengan paksa. Belum sempat penulis bereaksi, pengendara motor tersebut sudah hilang dari pandangan, melaju dengan cepat dalam kepengecutannya.

Penulis masih berdiri diam dan syok tidak berkutik menyadari apa yang baru saja penulis alami. Sebuah pengalaman sangat-sangat tidak menyenangkan dan tidak terlupakan: pelecehan seksual.

Kejahatan yang Semakin Meresahkan

Kini, yang tertinggal adalah sebuah kekesalan mendalam dan kemarahan yang tidak dapat diungkapkan, namun masih dapat penulis tuliskan agar ke depannya dapat menggugah kesadaran banyak pihak yang selama ini ‘terbuai’ dan ‘tertidurkan’ cukup lama.

Jujur, setelah kejadian penulis hanya bisa berjalan lesu menuju arah pulang. Otak penulis hanya mampu berulang kali memutar kembali ‘pemerkosaan psikologis’ tersebut, sambil berusaha merangkai skenario alternatif di alam pikiran dimana seandainya penulis dapat mencegahnya. penulis mulai mempertimbangkan untuk menyalahkan diri sendiri karena pergi ke luar di malam hari, bahkan mulai bertanya-tanya apakah penulis mengenakan pakaian yang kurang pantas untuk pergi ke luar rumah.

Dalam perenungan itu penulis pun termenung berpikir. Tunggu sebentar, ada yang salah di sini, pikir penulis. Pelecehan seksual ini bukan terjadi semata-mata karena keadaan yang kurang menguntungkan. It should not have happened at the very first place. Sebanyak apapun skenario yang penulis bayangkan, penulis pada akhirnya sadar bahwa sebenarnya masalah yang ada bukan terletak pada cara penulis menghindarinya, melainkan kenapa peristiwa seperti ini dapat terjadi.

Intensitas kekerasan seksual (pelecehan seksual termasuk di dalamnya) cenderung kian meninggi--tidak hanya penulis yang mengalami kejadian tak mengenakkan ini, tapi hal serupa juga dialami oleh banyak perempuan dimanapun dia berada. Di kota besar misalnya, sebagai contoh konteks (urban) dimana penulis dilecehkan, perempuan sangat rentan menjadi target pelecehan seksual.

Kisah lain yang tak kalah membuat geram dialami oleh rekan-rekan perempuan penulis sendiri.

Sebutlah si A, seorang mahasiswi yang sedang dalam proses menyelesaikan skripsi; selama proses mencari data dan mewawancarai narasumber yang adalah seorang lawan jenis berusia 50an tahun. Ternyata, proses wawancara yang seharusnya penuh etika berubah menjadi tragedi yang meninggalkan trauma dalam. Di tengah wawancara, narasumber mendekati dirinya dan mencuri ciuman di bibir secara kasar kemudian melanjutkan sesi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Padahal, dampaknya lebih destruktif dari apa yang terlihat. Kejadian tersebut membuat si A teringat kembali pada peristiwa di masa kecilnya saat ia dilecehkan dengan dijamah payudara dan kemaluannya oleh anggota keluarganya sendiri, menjadi korban dari seorang pedofil. Efek psikis yang traumatis dari kejadian ini semakin mengoyak harga dirinya sebagai perempuan. Singkatnya, pelecehan seksual terhadap dirinya kembali terjadi hanya dalam selang waktu 7 tahun. Dalam jeda 7 tahun yang relatif lama, seolah-olah semuanya tidak ada yang berubah: perempuan masih diobjektifikasi sebagai pemuas seksual, bukan sebagai manusia yang utuh.

Pelecehan seksual sudah lama dikenal sebagai fenomena kelam dalam kehidupan sosial yang menghantui kehidupan perempuan di berbagai lini. Bentuknya pun mengalami evolusi, modus operandinya bervariasi; pelakunya menjadi lebih ekstrim dan melakukan pelecehan seksual secara terang-terangan di tempat umum, contoh yang terbaru adalah ‘begal seksual’. Jika begal selama ini selalu dikaitkan dengan bentuk kejahatan pencurian motor, kini kejahatan telah bertransformasi menjadi perampasan harga diri perempuan. Dari penjamahan payudara secara paksa, sampai tega memerkosa korbannya bila terjatuh dari motor.

Begal seksual ini pun sempat dialami oleh teman penulis lainnya, si B. Saat ia hendak menuju minimarket dengan mengendarai motor, tiba-tiba pengendara motor yang menuju arah yang sama tiba-tiba memegang payudaranya dengan paksa lalu kabur.

Kasus pelecehan seksual adalah salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan yang hingga kini semakin mengkhawatirkan perempuan. Pada tahun 2015 saja, di tingkat personal kekerasan seksual merupakan bentuk Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) dengan jumlah kasus tertinggi kedua, setelah sebelumnya berada di peringkat ketiga di tahun 2014 menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan. Sedangkan, di ranah komunitas (dimana pelaku kekerasan dan korban tidak memiliki hubungan kekerabatan), sebanyak 61% KtP adalah berupa kekerasan seksual, menjadikannya sebagai bentuk KtP dengan jumlah kasus terbanyak.

Apalagi, penindakan hukum atas tindakan abusif itu masih bersifat merugikan perempuan.

Hal ini diutarakan Komnas Perempuan dalam publikasi yang menjelaskan Kekhususan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Misalnya, di dalam KUHP yang mengatur tentang jenis-jenis tindak pidana, definisi kekerasan seksual hanya mencakup tindak pemerkosaan dan pencabulan. Padahal terdapat 15 jenis kekerasan seksual yang diantaranya adalah pelecehan seksual.

Hingga saat ini, Komnas Perempuan masih sedang memperjuangkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar dijadikan sebuah undang-undang yang menegakkan keadilan bagi seluruh perempuan di Indonesia, terutama korban kekerasan seksual.

Peristiwa Kelam yang Justru Mencerahkan

Dari kejadian yang sangat tidak menyenangkan ini, adakalanya kita (sebagai korban) perlu merotasi sudut pandang kita untuk melihat sisi terang dari suatu peristiwa, sekalipun itu terlihat kelam di awal. Ketidakberdayaan perempuan dalam melawan pelecehan seksual menjadi lecutan semangat bagi penulis untuk melihat lebih jeli penyebab utama dari tingginya angka pelecehan, menelaah secara sosio- kultural, dan mengamati gambaran besar dari relasi kuasa dalam masyarakat yang cenderung meminggirkan perempuan.

Dengan demikian, peristiwa ini cukup menyumbangkan kekayaaan sudut pandang analitis dari penulis. Sebuah pencerah sekaligus panggilan untuk terus bersuara lantang memerangi pelecehan apapun bentuknya.

Pertanyaan-pertanyaan turunan pun mulai bermunculan di benak penulis; seperti misalnya, apa motif dari tindakan rendahan ini, dimanakah letak biang keladinya, dan bagaimana pandangan serta pola pikir masyarakat patriarkhis justru menjadi pendorong yang signifikan terhadap peningkatan intensitas kekerasan pada perempuan.

Kejahatan yang menimpa hampir semua perempuan di Indonesia nyatanya memiliki pola yang kurang lebih sama dan (tampaknya) terorganisasi sempurna karena sokongan sistem dan budaya yang misoginis. Kejahatan yang dialami perempuan di ruang-ruang publik, hingga merembet ke lingkungan privat pun menjadi bukti belum terciptanya fasilitas-fasilitas umum yang ramah dan aman bagi perempuan.

Selain itu, penegakan hukum pada kekerasan di ranah privat pun juga tidak optimal. Perempuan terpapar pada tindak kejahatan, baik di jalanan, kendaraan umum, halte, ruang tinggal pribadi, dsb. Keadaan demikian yang dialami oleh perempuan mengindikasikan bahwa sebagian besar ruang, sarana, maupun fasilitas umum bukanlah tempat yang mampu memberikan rasa aman pada perempuan. Situasi yang serba tidak aman dan kerentanan menjadi korban pelecehan harus dialami oleh perempuan dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari, baik pergi ke kantor, menaiki kendaraan umum, berjalan di trotoar, menunggu di halte, dan lain-lain.

Bayangkan, munculnya inovasi ‘ramah perempuan’ seperti ruang antrian, gerbong kereta, dan tempat duduk khusus untuk perempuan saja terlahir dari banyaknya pelecehan seksual terhadap perempuan yang terjadi di ruang-ruang publik tersebut.

Namun, meskipun implementasi ruang khusus perempuan di TransJakarta sudah dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu, masih saja terjadi kasus pelecehan seksual terhadap perempuan baik terhadap penumpang maupun karyawan TransJakarta. Penanganan pelecehan seksual yang terjadi oleh aparatur hukum pun masih menyisakan kekecewaan dan ketidakadilan bagi para korban.

Siapa yang disalahkan?

Sumber: Pexels

Sering pula kita mendengar tuturan ataupun teguran dari pemangku kebijakan, segmen tertentu dalam masyarakat, dan figur publik yang menuding pelecehan seksual disebabkan karena ulah perempuan sendiri. Kita sudah jenuh dan jengah dengan tuduhan-tuduhan seperti kesalahan perempuan memakai pakaian yang terlalu minim, salah perempuan karena bepergian di malam hari, salah perempuan berjalan sendirian di trotoar, salah perempuan tidak bisa bela diri, salah perempuan A, B, C, sekalian saja salah perempuan karena menjadi perempuan? Alasan-alasan yang menyudutkan perempuan tersebut mencerminkan pola pikir yang moronik, tumpul, berwawasan pendek, dan pro-opresi terhadap perempuan.

Baik laki-laki maupun perempuan, kedua-duanya sama-sama melakukan mobilitas dari tempat tinggal ke kantor/kampus/lokasi lainnya, sama-sama melakukan aktifitas bepergian. Artinya, kebutuhan akan mobilitas diperlukan oleh laki-laki dan perempuan di kala siang maupun malam. Katakanlah jika seorang perempuan harus berjalan sendirian di trotoar karena dia seorang single mother dan pergi ke apotek di malam hari untuk membeli obat untuk anaknya yang sakit, lalu dengan semena-mena kita masih meletakkan kesalahan pada perempuan tersebut jika ia dilecehkan? Lalu terkait perempuan yang berpakaian minim, apakah salah si perempuan juga?

Alasan yang menyebut bahwa biang keladi dari pelecehan seksual adalah cara berpakaian perempuan yang terbuka justru harus dimaknai sebagai penghinaan besar terhadap laki-laki. Rasionalisasi dari kausa berupa pakaian terbuka perempuan yang berefek pada terjadinya pelecehan seksual oleh laki-laki, secara implisit namun nyata mengasumsikan jika laki-laki pada dasarnya adalah peleceh, pemerkosa dan secara alamiah tidak mampu membendung nafsu rendahnya untuk tidak melecehkan atau memperkosa perempuan. Dikatakan nafsu rendah karena penulis meminjam istilah dari filsuf Plato dalam karyanya yang berjudul ‘The Republic’ dimana Plato merumuskan tiga penyusun jiwa manusia yaitu akal budi, semangat, dan nafsu rendah.

Sehingga, cara pandang demikian mengisyaratkan bahwa laki-laki memiliki disfungsionalitas dalam hal pengendalian atas nafsunya sendiri, dan imbas lebih jauhnya adalah laki-laki membutuhkan dan menggantungkan pihak-pihak lain di luar dirinya sendiri untuk menjalankan kontrol atas nafsu biologisnya.

Termasuk di dalamnya adalah menggantungkan sepenuhnya pada perempuan fungsi kontrol atas diri laki-laki dengan menerapkan sebuah keharusan agar perempuan mengenakan pakaian yang tertutup; jelaslah jika ketidakmampuan ini tampak seperti kian menegaskan laki-laki adalah makhluk pemburu nafsu dan pelaku kekerasan secara kodrati.
Alasan yang menyebut bahwa biang keladi dari pelecehan seksual adalah cara berpakaian perempuan yang terbuka justru harus dimaknai sebagai penghinaan besar terhadap laki-laki."
Relasi kuasa semacam ini kemudian bermuara pada hubungan yang timpang antara perempuan dan laki-laki. Mengapa tanggung jawab untuk mengendalikan nafsu harus dibebankan secara sepihak kepada perempuan dan perempuan harus menanggung biaya-biaya sosial dan hukum yang lebih besar? Dimana peran laki-laki dalam konteks ini?

Namun, sifat seperti ini tidak lantas berdiri sendiri tanpa adanya unsur eksternal dalam penjelmaannya berupa kekuatan supra-struktural yang memungkinkan pelecehan seksual terus terjadi. Terdapat kekuatan penekan yang lebih besar dari seorang individu, yaitu sistem dan budaya. Dorongan-dorongan pelecehan seksual dan keleluasaan pelaku untuk melakukannya tidak dapat dipisahkan dari tatanan masyarakat dan sistem sosial yang menaunginya.

Kemudian timbul pertanyaan mendasar, budaya dan sistem sosial macam apa yang membesarkan generasi-generasi pelaku pelecehan seksual? Masyarakat yang menganut sistem kekerabatan dari garis laki-laki menunjukkan linearitas dengan berjalannya tradisi yang juga mempertahankan privilese yang dimiliki oleh laki-laki. Pengistimewaan laki-laki bersumber dari reproduksi budaya dan sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang dominasi di berbagai ranah kehidupan selama berabad-abad.

Pengistimewaan tersebut dapat dilihat dari penitikberatan pola-pola koersif dan diskriminatif dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya pengetahuan, hubungan antar-individu, ekonomi, maupun hukum dengan mendasarkan pengambilan keputusan di ranah-ranah tersebut pada relasi kekuasaan yang sudah timpang--dimana posisi perempuan berada di garis peripheri-- yakni sebagai pihak yang berada dalam subordinasi.

Kuasa yang tidak setara, secara dominan dipegang oleh laki-laki menjelaskan pula mengapa ada penguasaan dan penggunaan paksaan fisik pada tubuh perempuan. Termasuk di dalamnya ialah perampasan kedaulatan perempuan atas tubuhnya sendiri. Lebih spesifiknya, glorifikasi atas superioritas laki-laki beroperasi dengan jelas ketika anggapan bahwa perempuan sebagai objek pemuas seksual diterima secara lumrah.

Perempuan Sebagai Objek Seksual dan Akibatnya

Pelecehan seksual yang dialami penulis dan teman-temannya menggambarkan perlakuan laki-laki terhadap perempuan di tataran komunitas sosial. Tindakan diilhami oleh pikiran, dan pikiran dibentuk oleh nilai-nilai yang menancap dalam batin dan logika seseorang. Maka pelecehan adalah tindakan yang digerakkan oleh pikiran yang banal dan logika yang berkerut.

Pelecehan seksual terbilang sebagai tindakan yang merendahkan harga diri perempuan. Namun, sesungguhnya perbuatan ini jauh lebih merendahkan derajat pelakunya sendiri. Mengapa? Karena pelaku hanya melihat perempuan sebagai objek seksual belaka, menjadikan vagina dan payudara sebagai olok-olokan, memperalat tubuh perempuan dengan tujuan pemuas keinginan dan memperlakukan perempuan tidak selayaknya sebagai manusia. Mereka yang tidak mampu memanusiakan manusia, sepatutnya mempertanyakan tentang kemanusiaannya sendiri.

Perempuan bukanlah sebuah benda mainan yang dengan seenaknya bisa dicolek, dipermainkan, dijamah paksa, dirampas kemerdekaan atas tubuhnya sendiri, dan diperlakukan secara imoral hingga melukai fisik dan psikisnya. Padahal perempuan yang sangat dekat dengan si pelaku pelecehan adalah perempuan yang paling mulia di muka bumi, yaitu ibu dari si pelaku pelecehan sendiri yang telah berjuang melahirkan.

Para pelaku ini mengalami hilang memori dan kemudian hilang juga penghargaan dan penghormatannya pada perempuan ketika melakukan tindak pelecehan pada korbannya. Apakah mereka tidak sadar, lupa ingatan, atau terhapus empatinya ketika mengingat perjuangan ibu mereka melawan sakit selama berbulan-bulan saat pelaku pelecehan berada dalam kandungan? Bagaimana perasaan seorang ibu jika mengetahui anak yang dikandungnya adalah anak yang kelak akan merendahkan dirinya sendiri serta martabat ibunya jika ibunya harus tinggal dalam rasa penyesalan karena melahirkan seorang peleceh atau pemerkosa?
Mereka yang tidak mampu memanusiakan manusia, sepatutnya mempertanyakan tentang kemanusiaannya sendiri."
Dampak objektifikasi seksual pada perempuan tidak hanya berhenti di pelecehan dan luka fisik saja, namun dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari pelecehan seksual adalah trauma yang mendalam. Kesakitan fisik yang ditambah dengan siksa trauma mempengaruhi kepercayaan dan pandangan terhadap diri sendiri (self-esteem), serta dapat menimbulkan efek was-was dan ketakutan berlebihan (paranoia).

Sebuah studi oleh Kaitlin Chivers-Wilson yang dimuat di jurnal McGill University Medicine di tahun 2006 mengungkapkan jika konsekuensi dari pelecehan seksual yang dialami oleh korban menimbulkan efek syok baik secara biologis, psikologis, dan sosial. Eksposur pada kejadian yang intens, menegangkan dan menyakitkan membuat korban mengalami PTSD. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dialami oleh korban pelecehan seksual pasca kejadian berlangsung dan memiliki probabilitas tinggi menggoncang psikologi korban. Upaya-upaya untuk menyembuhkan trauma tidak berarti bahwa korban akan melupakan kejadian yang dialaminya; malahan, korban akan membayangkan kejadian pelecehan itu dapat terulang kembali.

Perempuan dan Perlindungan yang Pseudo

Jika kita melompat pada lingkup yang lebih kecil, misalnya dalam pergaulan dan interaksi personal, terdapat pula anggapan umum yang mengandung premis bahwa perempuan adalah sosok yang harus dilindungi oleh laki-laki. Premis ini tidak sepenuhnya fatal, tapi juga tidak seutuhnya tepat. Laki-laki yang melindungi perempuan, katakanlah seorang kakak yang melindungi adik--tentu sebuah intensi yang positif.

Namun, premis ini juga mengandung konotasi pejoratif dan secara implisit mendukung gagasan tentang pelemahan perempuan. Eksistensi perempuan dianggap tidak imparsial tanpa adanya atribut perlindungan laki-laki. Penggambaran perempuan sebagai sesosok yang lemah dan tidak lengkap keutuhannya tanpa laki-laki adalah sebuah kepincangan berpikir.

Kalau perempuan berjalan sendirian di trotoar dan diwajibkan ditemani oleh laki-laki yang bisa bertindak sebagai ‘bodyguard’ -- hal ini menggambarkan pelemahan pada perempuan seolah-olah terdapat stereotipe yang membenarkan bahwa “perempuan yang berjalan sendiri tanpa pengawalan laki-laki adalah sosok yang rawan menjadi target kejahatan, karena sendirian dipercaya sebagai kelemahan; dan keberadaan laki-laki adalah unsur wajib agar perempuan tidak dijadikan sasaran pelecehan”.

Kapan perempuan dilihat tidak lemah meski tanpa penegasan dari kehadiran laki-laki? Praktik ini menyiratkan pelemahan stigmatis terhadap perempuan yang disuburkan oleh budaya yang serba patriarkhis.

Justru, pelaku pelecehan seksual lah yang sebenarnya merasa lemah. Mereka hanya berani beraksi pada konteks dimana relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki sudah timpang, sehingga posisi menguntungkan itu dimanfaatkan oleh mereka. Mereka tahu bahwa kesempatan untuk berhasil dalam aksinya jauh lebih besar karena mereka memanfaatkan pelemahan-pelemahan pada perempuan.

Mereka mengandalkan kepengecutan mereka diatas segalanya. Dengan mengendarai motor di malam hari di tempat yang pencahayaannya kurang, kemudian menjamah paksa tubuh perempuan, lalu dengan cepat melesat dengan tancap gas motor sekencang-kencangnya untuk kabur.

Artinya, mereka sendiri lah yang tidak mampu melindungi diri mereka dari perbuatan kriminal dan merugikan. Karena mereka tahu, dengan melarikan diri secepatnya dalam temaram lampu dan helm yang tertutup rapat, mereka sepenuhnya sadar bahwa mereka adalah bandit-bandit sosial yang tidak berani berkonfrontasi langsung dengan sistem hukum, peradilan, argumentasi--mereka tahu bahwa diri mereka adalah pelanggar norma dan tidak siap bila harus dijatuhi status tersangka.

Sepotong Pesan

Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan penyesalan sekaligus rasa terima kasih pada penjahat yang telah melecehkan penulis secara seksual. Kejahatan yang kalian lakukan tidak kami balas dengan kejahatan serupa. Kalian mungkin masih bebas berkeliaran dan berseliweran menanti kesempatan untuk menyerang korban lainnya, tapi pikiran dan jiwa kalian tidak sejengkal pun bebas dari kungkungan keterbelakangan.

Penulis tidak berterima kasih dan gembira atas perbuatan yang kalian lakukan, tapi ini menjadi pukulan keras bagi penulis untuk menuliskan ini dan menjaga semangat perjuangan melawan kekerasan dan pelecehan seksual. Dari sini kita belajar untuk mendidik nurani dan tergerak untuk selalu bersikap kritis terhadap kasus-kasus pelecehan. Di sisi lainnya, dalam nada yang positif pula, penulis masih bisa menjaga kewarasan agar dapat mengurangi trauma akibat perbuatan yang kalian lakukan.

Penyaluran amarah ini menjadi krusial ketika kami akhirnya semakin tahu tentang prioritas kebijakan apa yang saat ini genting untuk diimplementasikan. Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual sudah digulirkan. Harapannya, RUU ini dapat segera disahkan untuk menjerat pelaku pelecehan dan melindungi anak-anak maupun saudara-saudara kita dari kekerasan seksual. Kami akan selalu berdiri di garis keras pembela korban kekerasan seksual.

Kami tahu persis apa rasanya menjadi korban. Dan kami beruntung bahwa diri kami masih akrab dengan empati. Empati tidak bisa direkayasa, ia adalah bangunan rasa yang berbicara ketika penindasan bergema. Kami sudah tahu rasanya diinjak-injak, dilecehkan, dan direndahkan harga dirinya. Pembalasan yang elegan pada pelaku adalah menyaringkan suara dan mendesak kebijakan dengan cara-cara yang demokratis dan taat hukum.

Dua sikap akan cenderung diambil oleh para korban pelecehan seksual: move-on dan menerima kejadian pelecehan atau mengambil sikap intelektual menuntut keadilan. Kami memutuskan untuk mengambil keduanya, move-on tapi dengan kondisi bahwa kami akan terus speak-up mengenai isu pelecehan dan kekerasan seksual; baik melalui tulisan, gerakan, dan penyikapan.
Kami merenungi, menganalisis, dan belajar banyak dari kejadian ini. Sebaliknya, pelaku pelecehan tidak belajar dan mendapat apa-apa."
Manusia adalah konvertor energi dalam kehidupan. Jika energi yang dilepaskan oleh pelaku merupakan energi negatif, maka para korban adalah sosok-sosok hebat yang berlaku sebagai konvertor yang mengubah energi negatif itu menjadi energi yang positif dan inspiratif.

Tulisan ini adalah salah satu dari hasil konversi energi yang kami miliki.

END

2 comments

  1. Well.. gilanya, kenapa malah.. inovasi itu terdengar seperti... Ledekan?

    Inovasi dimana harus ada ruang perempuan justru membuat saya tidak nyaman; dimana

    1. Terjadinya segregasi, mengingatkan saya benar2 pada kasus dimana orang kulit hitam harus duduk dibelakang bis saat masa2 kelam rasialisme di amerika. Seakan2, kita yang sesama manusia dipisah seperti binatang.

    2.Pengurungan korban; Yang membuat masalah adalah banyaknya lelaki yang memang banyak melecehkan perempuan. Konyolnya, kita malah bertindak, seakan2 singanya yang dibiarkan bebas.
    3.Pembiaran pelanggaran Hak; Saya, waktu kembali ke Indonesia, Kaget luar biasa, saat naik transjakarta, dan ada sepasang suami istri, dimana suaminya duduk dibagian wanita, menggendong bayi mereka, karena jelas2 sang istrinya kelelahan (Dan apa salahnnya toh, suami menggendong bayi?). Gilanya, saat itu, pramugara Transjakarta, yang tidak menyadari adanya bayi itu, mengusir dengan lantang sang suami ke belakang. Wajah sang istri terlihat sangat khawatir. GILANYA lagi, para wanita yang ada disitu malah ramai2 mengusir sang suami dan melihat sang suami dengan pandangan kotor. Untung bagi sang pasangan, pramugara tersebut akhirnya mengerti apa yang terjadi dan menyisihkan tempat duduk bagi pasangan tersebut dan bayinya.
    Sebaliknya, saat ada laki-laki mesum yang terang2an menggoda seorang wanita (yang keliahatannya memang berprofesi sebagai wanita panggilan, tidak bermaksud merendahkan sang perempuan) di area wanita, semua malah diam karena malu. Saya dan adik saya saat itu sempat mnegur si bapak, hanya saja, bapak itu malah tidak menghiraukan, dan tidak ada yang menolong kami.


    Yang benar saja, Indonesia saat ini benar2 bias terhadap gender. Saya benar2 merasa tidak nyaman. Bahkan sebagai laki-laki. Semua terasa.. tidak nyata, dan, mohon maaf, sangat terbelakang


    Pendidikan Gender harus ditanamkan dengan baik. Itu satu2nya jalan untung menolong kesimpang siuran saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for the comment Gio. Memang pendidikan gender perlu ditanamkan. Tapi kembali lagi, sering banyak yang ambigu dan perbedaan mendasar yang sifatnya prinsipil dan pribadi untuk individual, misalnya dikaitkan dengan agama.
      Buat saya sih kekerasan seksual tetap harus diberantas ya.. Fokus dengan hal2 yang penting daripada sekedar menerapkan peraturan2 seperti kasus transjakarta yang anda jelaskan di komentar, tapi kenyataannya pelecehan masih saja terjadi.

      Delete

Thanks for your comment!

© Janet Valentina
Maira Gall